Doaku Untukmu

     Perjalanan hidup seseorang adalah rahasia Ilahi yg tidak seorangpun tau secara pasti. Kita hanya bisa berharap hari ini lebih baik dari kemarin, dan hari esok akan lebih baik dari hari ini. Namun yg terjadi kadang sebaliknya, kita tidak pernah siap menerima kenyataan hidup yg pahit..sepahit empedu. 
     Langit serasa runtuh begitu saya menerima sms dari adik kalau kakak tertua kami akan menjalani jadwal kemo besok hari. Air mata ini tidak terbendung ...mengalir membasahi pipi, terbayang semua kebaikannya, rasa rindu mendera jiwa, ingin rasanya terbang kesana, menguatkannya, menghiburnya, tapi aku tidak punya sayap tidak punya kemampuan apa apa kecuali memohon kepada pemberi kehidupan, " Panjangkan umur dan sembuhkan kakak saya, beri kami waktu untuk bertemu kembali untuk melepas rindu, bercanda, bercerita tentang pengalaman hidup".
     Dia kakak yg baik, teramat baik, jujur, penuh kasih, tidak suka basa-basi, selalu berkata apa adanya, kalau tidak suka akan dia katakan alasannya. Saat kita terpuruk, dia akan jadi penyemangat, saat kita bimbang ...dia akan memberikan solusi, dia lincah penuh harapan, di usia 65 tahun, dia masih kuat mendaki gunung ungaran, sementara saya duduk tak berdaya di kakinya saja.
     Hampir separoh dunia sudah dia jelajahi, tapi dia tidak sombong, dia akan berkata " kamupun bisa" , kalau kita kagum atas jiwa travelingnya. Semua adiknya merasakan sentuhan tangan kasihnya, semua itu didukung oleh suami yg baik: abang ipar kami, yg punya rasa kekeluargaan yg dalam.
     Kebetulan saya punya adik yg juga sangat ingin bertemu dengan kakak, maka kita merencanakan pergi menjenguk kesana, tapi persyaratannya sangat jlimet, hingga kini belum bisa terlaksana. Walaupun hampir setiap hari kita jalin komunikasi dengan keluarga disana agar tidak pernah bosan memberikan semangat pada kakak tercinta.

    Hampir setiap minggu dia telphon saya untuk bercengkerama berbagi pengalaman hari ini dan tertawa lepas dengan candaria, Dia memang sangat dekat dengan kita adik2nya, tidak ada jarak, walaupun beda usia kami hampir 12 tahun. 

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri