Jiwa Besar Seorang Istri yg Terbuang

    
Ketika Telphon berdering...anak gadis saya memanggil "mama " ada telphon. Saya angkat dan suara dari seberang sana bicara sambil sesenggukan " kak...abang sudah meninggal" dia terdiam dan saya juga kaget, tapi saya mencoba bertanya " kapan, dimana dan apa penyebabnya ?".
      Setelah itu saya kumpulkan anak anak saya kasih tau kalau ayah mereka sudah tutup usia, wajah duka bergelayut diwajah mereka, walaupun mereka sudah lama tidak bertemu ayahnya, tapi mereka tetap saja anak yg rindu kehadiran orangtuanya.
     Saya memang pergi dari rumah tiga belas tahun yg lalu membawa serta keempat anak kami yg masih kecil2 karena perasaan yg sangat tertekan dan perbedaan komitmen dengan suami. Dia hidup diantara pengaruh buruk dari keluarga besarnya, masalah mertua dan mantu serta ipar2 bercampur jadi satu. Dalam usia perkawinan kami yg masih relatif muda, problem yg datang silih berganti membuat rumah tangga yg kami bangun kolaps, suami jadi pemabuk, cemburuan, dan suka begadang.
     Malam itu dia pulang larut malam dalam kondisi mabuk, pintu di tendang sambil ngomel, saya tidak paham apa yg dia bicarakan. Saya bermaksud mau tidur karena rasa ngantuk yg mendera, dia marah2 sambil mondar mandir, dia berkata " ini rumah ibuku, pergi kau dari sini, kalau tidak kubunuh kalian semua".
     Bagai disambar petir disiang bolong... rasa kantuk saya sirna seketika. Saya marah dengan tidak kalah sengitnya " kalau kutau sifatmu seperti ini tidak perlu menunggu sampai punya anak empat, kau sudah kutinggalkan dari dulu"jawabku.
     Kumasukkan pakaian seadanya kedalam cover malam itu, sambil menunggu matahari terbit,  ternyata anak2 tidak ada yg tidur, mereka mendengar pertengkaran malam itu, dan mereka minta ikut semua. Dengan uang pas2an pada pagi buta sebelum tetangga pada bangun saya pergi bersama keempat anak saya. Saya tidak tega meninggalkan mereka, walaupun saya tidak punya cukup uang.
     Tanpa tujuan pasti saya berjalan mengikuti kemana kaki melangkah, saya teringat ada adik ibu mertua tinggal di lain kota yg paling netral selama ini dalam menilai keluarga besar suami, saya berharap beliau bisa jadi penyejuk hati yg luka ini, tapi ternyata sama saja, malah jalannya makin buntu.
     Karena disana tidak ada jalan keluar terpaksa saya bawa anak2 ke tempat adik saya yg kebetulan satu kota dengan adik mertua, dia hidup sederhana bersama suaminya yg saat itu masih pns biasa di departemen penerangan. Karena tempatnya kurang mendukung, maka kakak saya yg tertua memberikan tawaran untuk tinggal di rumahnya yg kebetulan sedang kosong di kota gudeg.
     Kami berlima berangkat naik bus malam dengan uang pinjaman dari adik saya, dengan lama perjalanan dua hari dua malam. Anak yg paling kecil berumur sekitar tiga tahunan, dalam perjalanan perutnya kembung karena masuk angin, saya olesi dengan minyak kayu putih, tidak sembuh malah tambah keras, akhirnya dengan menyebut nama Tuhan saya kasih minum obat turun panas...eee..langsung kempes dan sembuh.
     Di kota gudeg saya harus berjuang sendirian dengan bantuan modal dari keluargaku, hingga anak2 bisa tumbuh sehat seperti sekarang ini, sekolah sampai lulus kuliah tanpa bantuan sepeserpun dari suami dan keluarga besarnya, dia malah kawin dengan pilihan ibunya dan mengambil anak pungut sebagai pengganti anak kandungnya. Kalau ingat semua itu saya sedih, dan tidak ingin memaafkannya.
     Tapi kini dia sudah pergi untuk selamanya, saya harus bisa memaafkan orang yg sudah mati, bagaimanapun kelakuannya, walaupun itu sulit bagiku, tapi mungkin ini sudah garis kehidupanku, sekarang aku harus pulang demi  anak2 untuk melepas ayahnya ke tempat peristirahatannya yg terakhir.
    

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri