Dendam Kesumat Kuring
Entah kenapa orangtuanya memberi nama Kuring pada putri semata wayangnya, mungkin karena dia berkulit kuning langsat dan rambutnya keriting. Dia tumbuh menjadi gadis cantik, ceria dan lincah. Tidak heran bila dia yg masih bau kencur sudah disukai banyak lawan jenisnya, dia masih polos dan lugu, dia berteman dengan laki2 dan perempuan sebaya di lingkungannya.
Semakin lama kecantikan kuring jadi buah bibir di kampungnya, begitu sempurna dengan pembawaannya yg ceria, dia tumbuh bak primadona, dipuja dan di incar para lelaki hidung belang. Tapi orangtua Kuring tidak tinggal diam, mereka membekali anaknya dengan kepribadian yg kuat, sehingga tidak mudah diperdaya oleh orang lain, walaupun dia masih sangat muda. Kuring juga punya kecerdasan diatas rata 2 teman di sekolah, dia sering di ikutkan lomba ke kota dan selalu mendapat juara.
Kuring sangat menikmati kehidupannya, dia bercita - cita jadi dokter, agar dia bisa menolong anak2 yg kurang mampu di desanya. Dia belajar dengan sungguh2, dia tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya, dia sadar kalau tanggung jawabnya sangat berat menjadi anak tunggal.
Pelan tapi pasti, apa yg di inginkan Kuring bisa terwujud, dia berhasil masuk fakultas kedokteran dengan jalur bea siswa. Orangtuanya ikut berbahagia atas keberhasilan anaknya masuk kuliah tanpa uang kuliah, mereka hanya memikirkan uang kost dan biaya makan Kuring selama kuliah saja.
Kuring tidak mengalami kesulitan yg berarti selama mengikuti kuliah dan kecerdasannya memang pantas diacungi jempol, karena dia hanya membutuhkan waktu kurang lebih empat tahun mendapatkan predikat cum laude sebagai dokter termuda di kampusnya.
Dengan suka cita yg dalam dia pulang ke desa untuk memulai dharma baktinya sebagai dokter muda di desanya, dia sengaja memilih puskesmas di kecamatan agar pelayanannya bisa menjangkau desa kelahirannya. Banyak yg ingin dia kerjakan untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di lingkungan tempat kelahirannya.
Sebagai dokter muda yg cantik dan energik, Kuring sangat mudah masuk dalam khasanah kehidupan warga masyarakat, dia sangat rajin mengunjungi desa2 yg tertinggal dan masih buruk kesehatan lingkungannya. Dia tidak pernah menolak orang yg membutuhkan tenaga/ bantuannya.
Dengan ketulusan hatinya pada malam itu sekitar jam delapan malam, ada orang mengetuk pintu rumah Kuring sambil bermandi peluh, minta tolong karena istrinya sedang sekarat setelah melahirkan anak pertama mereka. Kuring langsung mempersiapkan diri dan semua peralatan kesehatan, naik motor sendiri ke desa yg tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Dengan cekatan Kuring menolong ibu yg sedang pendarahan itu, dan berusaha secepat mungkin menghentikan pendarahannya. Dia berhasil, si ibu tidur karena kelelahan, tapi kondisinya sudah membaik. Tidak terasa jam sudah beranjak ke angka 12, maka Kuring segera berpamitan pada keluarga pasien.
Dalam perjalanan pulang, jalanan sudah sepi, tapi tiba2 ada bayangan orang pakai baju serba gelap berkelabatan, Kuring waspada sambil menginjak pedal motornya, dia ngebut sebisanya. Dari segala penjuru dia di hadang oleh orang2 bertopeng, Kuring berteriak..." siapa kalian ?". Semua diam. hening. dan mereka makin mendekat dengan posisi mengepung Kuring.
Kuring mengambil kuda2 untuk melepaskan diri dari kepungan bertopeng itu, dia ngegas motornya dengan kecepatan maximum, menabrak mereka dan....brukkk...?! motornya jatuh dan Kuring mereka tangkap. Kuring berusaha melawan mereka, tapi tidak ada gunanya, karena kalah jumlah. Dia dibawa ke tepi hutan, disana mereka mengikat tangan dan kakinya, menyumpal mulutnya, lalu memperkosanya secara bergantian. Mereka tidak mendengar rintihan Kuring yg semakin lemah, dan akhirnya meninggal.
Berita meninggalnya Kuring tersiar kemana- mana, polisi mengejar pelakunya, yg sudah menjadi target polisi karena mereka adalah gerombolan teroris yg masuk dalam daftar pencarian orang. Kuring sudah tiada, orangtuanya lunglai tak berdaya, putus sudah harapan mereka untuk memperbaiki taraf hidupnya, merenda masa depan anaknya yg semata wayang.
Pas setelah seratus hari Kuring meninggal, ada kabar yg membuat bulu roma kita merinding, satu persatu buronan yg di duga memperkosa Kuring, ditemukan tewas di pinggir hutan dengan kondisi mengenaskan. Dan dengan ciri2 khusus yaitu alat vitalnya terpotong seperti bekas gigitan taring tajam.
Orangtua Kuring tidak bisa berbuat apa2 dengan santernya pemberitaan di media massa kalau Kuring Alm.anak semata wayang mereka setiap habis magrib keluar dari kamarnya untuk membalaskan dendamnya kepada semua pelaku pemerkosaan.
Hingga pada malam ketujuh setelah seratus hari kematiannya, Kuring tidak langsung membunuh korbannya, tapi dia membawanya ke kamar dan merobek- robek kulitnya lalu memotong alat kelamin pria itu dengan gigi taringnya. Sambil menangis histeris pria itu menghembuskan nafas yg terakhir disaksikan aparat kepolisian dan seluruh penduduk kampung. Kuring balas dendam..menghabisi ketujuh orang pemerkosanya.

Comments
Post a Comment