Gilakah Aku
Dia begitu mudah memohon maaf, mencuci kakiku saat ketahuan atau ketangkap basah dengan wanita lain, sekali kumaafkan, dua kali masih kumaafkan , ini yg kesekian kalinya aku jadi bimbang akankah aku bisa memaafkannya lagi.
Tapi aku tidak kuasa menahan rasa rindu, walaupun aku tau betapa dia tidak pernah berubah, dari awal pernikahan sampai kini rambutku sudah memutih, dia sangat sadar dan tau betul cintaku padanya tidak pernah pudar. "Bodohkah aku..?..". apa yg kucari darinya, dia pengangguran sejak awal pernikahan kami, dia hobby berbohong, berulang kali kuberikan modal usaha agar ada kesibukannya, tapi berulang kali pula dia bangkrut tanpa merasa bersalah.
Aku seperti kerbau di cucuk hidungnya, berapapun uang yg saya dapatkan sebagai pegawai di instansi pemerintah, pasti saya beritahu padanya, tidak ada yg tersembunyi. Bahkan perhiasan yg saya beli dari hasil menabung bertahun - tahun sebelum menikah, dia jual tanpa sepengetahuanku. Marah itu sudah pasti, tapi begitu dia mulai bersimpuh dihadapanku sambil memohon maaf, seketika itu juga hatiku luluh dan maafnya kuterima. "Gilakah aku ?"
Aku seperti kerbau di cucuk hidungnya, berapapun uang yg saya dapatkan sebagai pegawai di instansi pemerintah, pasti saya beritahu padanya, tidak ada yg tersembunyi. Bahkan perhiasan yg saya beli dari hasil menabung bertahun - tahun sebelum menikah, dia jual tanpa sepengetahuanku. Marah itu sudah pasti, tapi begitu dia mulai bersimpuh dihadapanku sambil memohon maaf, seketika itu juga hatiku luluh dan maafnya kuterima. "Gilakah aku ?"
Sekarang aku sudah pensiun, tidak punya rumah tinggal, tidak punya usaha, tidak punya gairah hidup, kecuali karena anak2 aku rasanya ingin mengakhiri hidup saja."Bego banget yaa"aku nompang di rumah saudara yg satu, berpindah ke rumah saudara yg lainnya hingga mereka bosan.
Suamiku sudah hidup dengan wanita yg dia temukan di warung remang2, dia hidup bagai benalu, menghisap darahku hingga kering kerontang, setelah itu dia pergi cari wanita lain yg bisa menopang kehidupannya.Tapi aku masih merindukannya, ingin bertemu dengannya, walau hanya sekejap saja. "Gilakah aku ?".
Angin berhembus membelai rambutku, semilir angin menyadarkanku atas dinginnya udara senja, pemandangan yg tadi indah kini mulai pudar bersama kegelapan malam. Gelapnya malam tidak segelap hatiku, yg belum bisa melupakan cinta palsunya. "Gilakah aku ?"

Comments
Post a Comment