Reuni Keluarga Besarku

    
Pada bulan juni banyak orang perantauan yg pulang kampung, sekalian membawa anak2 mereka liburan untuk memperkenalkan anak2nya pada tempat kelahiran orangtuanya. Dalam kehidupan ini sangat banyak permasalahan besar yg berawal dari hal2 yg kecil, apalagi bagi anak2 yg sudah lahir dan besar di negri orang, tapi bila satu keluarga besar berkumpul dan bercengkerama, saling mengenal satu sama lain, maka bisa dibayangkan, betapa indahnya hidup ini.
     Di kampung hanya ada dua anggota keluarga yg tinggal dari sebelas bersaudara, dia adalah adik laki2 no. sembilan dan adik perempuan yg no. sepuluh, itupun mereka awalnya sudah pergi merantau, tapi karena sesuatu dan lain hal, terpaksa pulang kembali ke kampung halaman.
     Mereka hidup dari hasil tani, tapi mereka juga bukan seperti petani asli, mereka hanya bekerja ala kadarnya, dan hidupnya juga hanya pas2an. Sebenarnya mereka banyak dibantu keluarga besar, namun lama kelamaan orang yg membantu makin berkurang karena masing2 punya tanggungan keluarga yg makin besar, sehingga diharapkan mereka bisa survive dari usaha mereka sendiri.
     Pas liburan sekolah, kita sepakat untuk reuni keluarga besar sebagai sarana silaturahmi, sebelas kk pulang dan berkumpul di tempat adik, dua rumah penuh semua, ramai banget, suasana benar2 asyik dan menyenangkan, makan bersama layaknya hajatan dengan lauk seadanya tetap enak dan nikmat.  
    Pada hari minggu sebagian pergi ke gereja, yg perempuan pakai baju longdress dan pria pakai jas lengkap, mobil keluaran terbaru jejer2 di halaman rumah, siap mengantarkan rombongan pergi kemana saja. kelihatannya sangat bahagia yaaaa....???
     Dibalik kebahagiaan itu ada hal yg menggelitik hati saya, bayangkan saja semua piring dan gelas yg kita pakai selama disitu ternyata milik tetangga sebelah, yg kehidupannya jauh lebih susah dari keluarga kedua adik saya. Miris rasanya. Tapi mereka punya persediaan alat makan buat orang sebanyak limapuluhan. Rencana reuni sudah lama dibahas, kalaulah mereka tidak mau menyediakan peralatan makan, kita bisa beli sendiri begitu sampai disana.
     Bukan karena tidak mampu membeli, tapi adik saya tidak punya rasa malu, karena sudah terbiasa dibantu, maka mereka selalu berpura2 lemas biar dikasihani, dan itu sudah menjadi kebiasaan jelek selama ini. Mereka terbiasa hidup dari belas kasihan keluarga, tidak ada lagi rasa tanggung jawab pada diri sendiri. Yg mau saya katakan adalah jangan mudah merasa kasihan pada penampilan seseorang, tapi kenali pribadinya yg asli. Walaupun itu saudara kandung kita.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri