Akhir Cinta Seorang Perancang Mode

   
Wajah ayu menawan hati pria sejati yg baru saja merampungkan pendidikan akmil, dia adalahTaruno yg biasa dipanggil Nano. Nano menjadi siswa terbaik di akademinya, dia cerdas, sering tampil di ajang lomba antar akademi, maka segudang prestasi dengan piala kejuaraan sudah mengukir namanya di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai siswa lulusan terbaik dia dapat tempat terbaik di kesatuannya, disegani, dan dijadikan teladan bagi sejawatnya, dia merasakan nikmatnya hasil kerja kerasnya selama ini. Tidak ada hambatan berarti dalam kehidupannya kariernya, melejit tak terbendung. Tak pernah terbayang sebelumnya kalau dia bisa jadi seperti sekarang ini.
     Nano merasa ada sesuatu yg kurang dalam kehidupannya yaitu seorang wanita yg cantik wajahnya dan hatinya juga yg bisa dijadikan pendamping hidupnya, tempatnya mencurahkan kasih sayang, membentuk keluarga madani, dan tempatnya untuk berbagi dalam suka maupun duka. Dia ingin pendamping hidupnya kelak menjadi ibu yg baik bagi anak2nya, menjadi istri yg setia melayani suaminya, menjadi menantu yg baik bagi ibunya, dan menjadi kakak yg baik bagi adik2nya.  "sempurna" katanya dalam hati.
     Perjalanan Semarang - Yogya menghabiskan waktu sekitar tiga jam bila menggunakan bus patas, dia duduk di kursi kedua dari depan pintu masuk, seorang wanita cantik duduk persis di sebelah kirinya, yg sedari tadi memalingkan wajahnya kearah luar, seolah olah tidak perduli kehadirannya.
     Dengan lembut, nano menyapa perempuan itu, " mba mau kemana ? "  yg perempuan menoleh sambil mesem:"ke Yogya mas"jawabnya.Serrrrr....jantung nano berdetak kencang"cantiknya...???" desisnya.....sambil memandangi wajahnya tanpa kedip. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama. "Saya Nano...mba' namanya siapa ? kalau boleh tau...?"." Denia mas" jawabnya, biasa dipanggil Nia.
     Mereka bercerita tentang latar belakang kehidupan masing2, yg membuat pertemuan mereka semakin hangat dan saling bertukar nomor hp dan alamat tempat tinggal mereka masing2. Keduanya merasa ada rasa tertarik satu sama lain, maka ketika bus yg mereka tumpangi sampai di terminal Jombor, mereka berjanji akan bertemu kembali di suatu tempat entah kapan.
     Nano ingin lebih dekat lagi dengan Nia, dia memiliki hampir semua kriteria calon pendampingnya, tapi dia juga tidak mau gegabah, takut kecewa, maka dia jalin hubungan lewat hp dulu, dan pada hari itu mereka sepakat untuk bertemu di cafe semarang sekitar jam tujuh malam.
     Nia memakai gaun merah delima yg sengaja dia beli untuk pertemuan ini, lengkap dengan asesoris membuat penampilannya malam itu sangat special, Nano terbius kecantikan yg dimiliki Nia, dia tidak sabar lagi untuk segera menyatakan cintanya pada sang pujaan hati, gayung bersambut, Nia juga tidak menolak permohonan Nano. Malam itu mereka meresmikan awal pacarannya dengan segelas anggur merah, mereka bersulang untuk kebahagiaan mereka berdua.
     Nia adalah seorang waria yg sudah operasi kelamin, perancang mode dan usianya sudah kepala tiga, kali ini dia merasa jatuh cinta dengan Nano saat pandangan pertama, selama ini dia selalu menutup diri terhadap laki2, karena dia sadar akan keterbatasannya, dia takut kecewa, dan bagaimana nanti kalau mereka tau kekurangannya, apakah mereka masih menerima dirinya yg tidak seperti perempuan pada umumnya. Ada pergumulan hebat dalam hatinya, walaupun sekarang sudah syah secara hukum jadi perempuan, dan dia juga ingin membentuk keluarga bahagia layaknya manusia normal.
     Hampir setiap hari Nano datang ke tempat kost Nia, mereka semakin dekat dan saling curhat, baik pengalaman kerja maupun kerinduan mereka untuk segera memperkenalkan diri pada keluarga kedua belah pihak.Nia merasa sudah waktunya memberitahukan siapa dirinya, dan masa lalunya kepada Nano, agar tidak ada yg tersembunyi diantara mereka berdua.
     Keluarga Nano sangat selektif dalam hal perjodohan, pakai bobot, bebet, dll. beda dengan kel. Nia, mereka serahkan semua pada Nia dan orangtua akan mendukung siapa yg menjadi pilihannya. Ketika Nano memberitahukan orangtuanya, kalau dia sudah mendapatkan calon istri, maka ibunya segera datang ke semarang untuk melihat dan mengenal lebih dekat perempuan yg akan dijadikan pendamping anaknya.
    Begitu turun dari pesawat, Nano menyambut ibunya di depan pintu keluar, sambil memperkenalkan Nia calon istrinya. Ibunya tidak suka dengan Nia sejak pandangan pertama, entah kenapa, padahal Nano belum cerita secara detail tentang Nia.Mungkin itu adalah naluri seorang ibu, Nia bingung harus bagaimana. Nia tau diri, dia pamit mau kerja dulu ke calon ibu mertuanya, dia berjanji kalau sudah pulang kerja akan datang ke tempat Nano lagi.
     Nano berusaha menjelaskan kenapa dia memilih Nia jadi calon pendampingnya, tapi ibunya tidak bergeming, ibunya tetap ingin menikahkan anaknya dengan wanita murni, yg bisa memberikan keturunan, yaitu seorang dokter muda nan cantik, teman sekolah Nano di desa. Ibunya sudah menganggap Isnaeni seperti anaknya sendiri, dan ibunya sudah sepakat dengan keluarga Isnaeni untuk menikahkan mereka tahun depan, dan ibunya tau kalau Nano adalah anak penurut, tidak akan berani menolak pilihan orangtuanya.
     Hari itu juga ibunya langsung pulang, Nano marah, tapi tidak punya keberanian untuk menolak pilihan orangtuanya, dia menjadi pemurung, dia mudah tersinggung, sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya sehari - hari. Dia sudah berusaha meminta pengertian ibunya,"kali ini saja bu saya sendiri yg menetapkan pilihan hatiku, mohon ibu mengerti" katanya. tapi ibunya tetap pada keputusannya.

     Dia jadi temperamental, maka ketika Nia datang ke rumahnya pada sore menjelang malam hari itu, Nano hanya diam di kursi, dia tidak memperdulikan Nia yg duduk disampingnya, Nia menyapa dengan mesra  " halloo...chy...??  ibu kemana ? ". " pulang " jawabnya dengan datar.
     Nano tidak ingin bertamu, dia ingin tidur, dia merasa teramat capek, maka dia suruh Nia untuk pulang saja. Tapi Nia ingin tau kenapa Nano sangat murung dan tidak bersemangat, kenapa ibunya langsung pulang ?, maka dia tidak mau pulang. Dia baru mau pulang kalau Nano menjelaskan permasalahan yg membuatnya murung. Nano semakin kalut, dia sudah memohon Nia untuk segera meninggalkannya, tapi tidak ditanggapi, tanpa terkendali, Nano mendorong Nia dari kamarnya, lalu menutup pintu dari dalam.
     Nia terduduk, apa yg dia takutkan selama ini, benar2 terjadi, dia menyesali pertemuannya dengan Nano, dia merasa dunia tidak adil, dia merasa dirinya sangat hina, tidak tau diri, dia bukan perempuan idaman, walaupun semua orang mengagumi kecantikannya, kebaikan hatinya, keramahannya, ketrampilannya merancang mode, dan kelemah- lembutannya. tapi sekarang terbukti semua itu tidak berarti apa2. Nia benci dirinya sendiri, dia tarik rambutnya, dia tampar pipinya, dia lemparkan tasnya, dia buang sepatunya, dia pulang dalam kondisi awut2an, jiwanya hancur bersama cintanya.

    

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri