Marco dan Bisnis Barunya
Marco adalah pria gagah dan tampan, dia seorang mahasiswa di perguruan tinggi terkemuka di negeri ini, dia berasal dari keluarga mampu secara ekonomi, tapi miskin dalam kasih sayang. Saat umur 3 tahun dia dititipkan orangtuanya di asrama yg semi panti asuhan, karena bercerai dan masing2 punya pasangan hidup yg berbeda. Kedua orangtuanya berkewajiban mengirim uang bulanan agar semua kebutuhannya tercukupi, hingga dia lulus sma sesuai keputusan pengadilan saat itu.
Namun setelah masuk perguruan tinggi, ibunya yg sudah punya tanggungan anak yg lain, mulai kesulitan memenuhi kewajibannya, yg bisa rutin memberikan uang belanja hanya sang ayah saja. Marco mulai merasa kekurangan, dan dia mulai berfikir untuk mencari uang tambahan dengan caranya sendiri.
Dia sadar karunia yg dia miliki, otak encer, wajah tampan, tapi pekerjaan apa yg paling cocok buat dia untuk mencukupi kebutuhan yg paling mendesak saat ini. Dia coba masukkan lamaran pekerjaan lewat internet, barangkali ijazah sma laku untuk cari kerja.
Tapi tidak satupun perusahaan yg mau menerima lamarannya, kalaupun ada yg mau paling hanya marketing, dan harus bersedia di empatkan dimana saja.
Suatu ketika dia bertemu dengan seorang pria paroh baya di stasiun kereta api jurusan semarang, mereka berkenalan dan sambil menunggu keberangkatan, mereka bercerita tentang kehidupan dan keadaan pemerintahan saat ini.
Tak disangka dan dikira bahwa mereka dapat nomor kursi yg sejajar, maka omongan yg tadi sempat terputus, sambung lagi. Parto nama teman barunya, sudah berkeluarga tapi belum dikaruniai anak sampai sekarang dalam usia pernikahan yg ke sepuluh ini. Mereka sudah berobat kemana - mana, tapi belum ada hasil, Marco seperti sadar dari mimpinya, dia mencoba keberuntungan siapa tau kali ini dia berhasil mendapat tambahan uang bulanan.
Marco menunjukkan rasa iba pada Parto, dan menawarkan solusi terbaik biar kebahagiaan mereka tidak terusik lagi oleh masalah anak.Marco punya banyak teman wanita yg siap dijadikan kekasih, kenapa tidak dimanfaatkan untuk menolong keluarga Parto, begitu fikirnya.
Maka Marco menawarkan jasa kepada Parto dengan syarat semua kebutuhan mulai dari periksa kehamilan pertama sampai kekasihnya melahirkan akan menjadi tanggungan Parto, ditambah uang jasa sebesar Rp.20 juta, Parto minta waktu untuk berembuk dulu dengan istrinya di rumah, dan akan memberikan jawaban secepatnya.
Setelah sepakat dengan istrinya, Parto menghubungi Marco agar dia datang ke rumahnya nanti sore bersama kekasihnya juga. Marco senang sekali mendengar rencananya bersambut, berarti masalah uang bulanannya akan teratasi, dia ceritakan pada kekasihnya, kalau keluarga Parto adalah saudaranya yg ingin punya anak, tapi mereka tidak bisa punya anak sendiri karena sesuatu hal.
Awalnya kekasihnya menolak rencana itu, tapi karena rasa cintanya yg sangat besar pada Marco, maka dia rela melakukan apa yg Marco minta. Mereka datang ke rumah Parto tepat waktu, sore itu keluarga Parto sudah memesan tempat terbaik untuk Marco dan kekasihnya di hotel paling baik di kota itu.
Semua persyaratan disepakati kedua belah pihak, dan tertulis diatas kertas bermeterai Rp.6000,- Parto mengantar dua sejoli ke hotel untuk berbulan madu, biar tidak dianggap anak haram, mereka mengundang seorang pemuka agama untuk menikahkan Marco dan kekasihnya.
Uang dua puluh juta Marco terima dan dia gunakan untuk mencukupi kebutuhan bulanannya, kekasihnya tidak pernah merasa curiga terhadap Marco, dia percaya saja, maka selama mengandung anak yg sudah di pesan itu, dia hanya dapat uang belanja untuk memenuhi kebutuhan gizi cabang bayi.
Karena sudah merasakan hasil dari bisnis barunya, Marco sibuk mencari pasangan yg tidak bisa punya anak, tapi punya kemampuan secara ekonomi memelihara anak. Dia mulai memasang iklan tersembunyi di dunia maya, dan ternyata peminatnya luar biasa, Marco mendapat banyak orderan.
Sekarang dia harus mencari wanita yg mau menjadi sukarelawan mengandung anak sesuai pesanan orangtua baru tsb. Dalam sebulan Marco bisa membuat perjanjian sampai sepuluh kali, dan semua berjalan sesuai rencana.
Begitulah Marco menjalankan bisnisnya tanpa beban, dan semua yg dia inginkan secara materi terpenuhi sudah, rumah,mobil, uang deposito di bank, semua hasil dari bisnis anak. Tapi bisnisnya mulai tercium oleh aparat, maka disusunlah strategi untuk bisa menangkap basah pelaku.
Polisi menyamar jadi calon orangtua baru via internet, dia sepakat bertemu di lobby hotel, tanpa rasa curiga Marco datang kesana, dan membuat perjanjian dengan orang tersebut, dan sesaat kemudian dia ditangkap polisi atas tuduhan memperjual belikan anak.

Comments
Post a Comment