Kisah Bocah Jadi Sebatang Kara

    
Setiap hari Minggu Mbah Mono selalu ikut  kebaktian di Gereja, dan selalu duduk di bangku paling belakang, tapi hari itu kok tidak ada, maka anaknya yg tinggal dekat rumah langsung menghubungi hpnya, ternyata mereka sedang dalam perjalanan ke Tangerang untuk melayat adiknya adik iparnya, bersama keluarga adiknya yg kebetulan tinggal bersama satu rumah.
     Memang Mbah Mono sangat perhatian pada setiap anggota keluarga besarnya, apalagi yg berhubungan dengan musibah atau kemalangan, tidak heran kalau di sekitar tempat tinggalnya, mbah Mono menjadi teladan bagi warga, mereka sangat menghormati keluarga mbah Mono, bila ada orang kesusahan, mbah Monolah rujukan warga untuk dimintain bantuan.
     Mereka berangkat sekitar jam 9 pagi dari rumah, yg nyupir adalah Jono mantunya, mereka berangkat satu paket yg terdiri dari : mbah Mono , mbah Uti istrinya mereka duduk di belakang supir, Nani dan Jono anak dan mantunya duduk di depan, Didik dan Vina cucunya duduk di belakang.
Sudah menjadi tradisi kalau bepergian kemanapun mereka pergi selalu satu paket, dan tempat duduknya juga sudah di set seperti itu, mereka sangat bahagia.
     Sebelum masuk tol mereka berhenti dulu untuk istirahat sekaligus makan siang, dan setelah makan siang mereka melanjutkan perjalanan, namun saat mau naik ke mobil, Nani minta pindah ke belakang dan Didik disuruh ke depan menggantikannya, saat ibunya Didik cerita ke mbah Uti kalau dia ber mimpi tadi malam, "ada banyak orang datang ke rumah mereka dan ada juga tamu yg tidak dia kenal ikut datang, dalam perjalanan itu", ternyata mbah Uti juga mendapat mimpi yg sama.
    "Ibunya Didik tanya artinya apa ya bu ?" mbah Uti bilang "itu kembang tidur gak usah dipikir". Karena saat itu hujan turun rintik2, maka mbah Uti dan mbah Mono mulai ngantuk, Jono nyupir dengan agak hati2 karena jalannya agak licin, jadi konsentrasinya full, tapi Didik yg duduk disamping Jono tiba2 dikagetkan oleh kedatangan mobil terbang melayang kearah mereka, persis kayak atraksi di film2 kartun yg ada di tv, Didik mendengar jeritan ibunya, lalu semuanya jadi gelap.
     Setelah dia siuman, dia lihat ayahnya duduk dengan kepala terkulai lemas, mbah Mono terlempar ke luar, mbah Uti terkulai lemas, dan ibunya sudah tidak bergerak lagi, karena jok mobil paling belakang sudah berantakan seperti kena bom. Tidak lama sesudah itu datang polisi dan warga sekitar menolong Didik keluar dari mobil naas itu dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa kesehatannya. Ternyata Didik hanya luka ringan, disampingnya ada juga seorang pemuda terbaring dengan luka ringan seperti dirinya. "Dialah pengemudi mobil sedan yg menabrak mobil mereka."
     Pemuda itu melaju dengan kecepatan tinggi, hingga dia tidak mampu lagi mengendalikan mobilnya, dan mobil menabrak tembok pembatas jalur tol, lalu melayang ke arah yg berlawana dan menghantam mobil yg sedang dikemudikan ayahnya Didik. Terjadi benturan keras yg menewaskan semua anggota keluarga Didik.
     Didik tidak tau kalau semua keluarganya sudah tewas dalam peristiwa itu, tinggallah dia sebatang kara sekarang. Kalau melihat dari kerusakan mobil itu, merupakan suatu mujizat luar biasa bagi Didik bisa selamat dari maut.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri