Kepala Desa Suka Kembang Desa

    
Di desa saya ada kebiasaan untuk memilih kepala desa, harus melalui proses layaknya pemilu yg diselenggarakan untuk memilih presiden. Berlakunya masa jabatan untuk 5 tahun ke depan, dan persyaratannya sangat banyak. misalnya : harus punya pendukung lebih dari 50 % dari jumlah pemilih yg hadir ; punya pengalaman berorganisasi selama 5 tahun, dll.
     Jauh sebelum hari " H " semua calon sudah memasang kuda2 untuk memberikan harapan / janji2 pada warga kampung, bagi siapa yg memilih si " A " akan dapat keringanan dana pendidikan, kalau memilih "B" akan diberikan bantuan bibit, kalau memilih "C" akan diberikan alt pertanian gratis.
     Warga desa tidak kalah semangat dengan para calon kepala desa, mereka memanfaatkan semua kesempatan yg ada, tidak peduli siapa yg jadi kepala desa, yg penting ada uang tunai saat itu juga. Biasanya tim sukses sudah menjadi spionasi desa, memasang kuping lebar2, siapa yg paling menonjol di desa itu, untuk dijagokan kepala desa.
     Untuk itu perlu ada terobosan bagi calon yg pas2an atau bahkan tidak masuk nominasi, terjadilah namanya serangan fajar, bagi mereka yg dianggap punya pengaruh di desa akan diberikan uang pelicin untuk dibagi2kan pada calon pemilih besok hari sebelum ayam berkokok, kenapa hrs pagi2...? karena ibu2 biasanya minta uang belanja pada suaminya pagi hari sebelum pergi ke ladang.
     Ketika orang mulai berdatangan ke balai desa untuk memberikan suaranya, suasananya sangat berbeda, banyak yg senyum2 penuh arti, dan ada juga yg cuek...berlalu, semua datang mensukseskan pemilihan kepala desa, sengaja saya tunggu sampai akhir penghitungan suara.
     Dan benar saja, ketika tim sukses menyebar duit di kandang macan lawan, semua beralih menjadi pengkut kandidat lawan/ rival. Terpaksa pihak lawan gigit jari, melihat perubahan telak dikandang sendiri. Mau marah, sudah terlambat, pemilih sudah memberikan suaranya pada orang lain.
     Begitulah yg terjadi saat desa kami harus menelan pil pahit, dengan terpilihnya orang yg sama sekali tidak terduga dan tidak disangka. Orang yg paling tidak bertanggung jawab, dan tidak bermoral, tapi bisa menang karena uang yg dia sebar sebelum orang tersadar.
     Setelah resmi jadi kepala desa dia memberikan sambutan sbb : Yang saya hormati Kepala desa yg kebetulan adalah saya sendiri, yg saya hormati ketua pembina LKMD yg kebetulan saya sendiri ; yg saya hormati Ketua Lumbung tani yg kebetulan saya sendiri ; yg saya cintai dan banggakan bendahara desa yg kebetulan anak saya sendiri ; yg saya hormati pembina koperasi desa yg kebetulan besan saya sendiri ; yg saya hormati Ketua keamanan desa yg kebetulan adik ipar saya sendiri, saya kira semua hadirin sudah sangat paham dengan rencana saya ke depan, maka tidak perlu lagi di perpanjang karena yg tinggal hanya keluarganya saja.
     Semula kaum ibu di desa tidak menyadari apa akibat dari tindakan mereka saat itu, yg mereka tau para suami memberikan uang belanja lebih banyak dari biasanya dengan pesan kalau nanti di tempat pemilihan harus memilih si "A". 
     Sebetulnya mereka tidak suka dengan kepala desa itu, dia suka berpoligami, dia punya istri simpanan dimana- mana, kalau ada gadis yg sedang tumbuh dewasa, kepala desa akan rajin jaga malam di tempat itu sampai kembang desa jatuh dalam pelukannya, belum lagi setahun jadi istrinya, bila ada yg lebih cantik dan muda, maka dia akan kawin lagi. Maka tidak heran kalau ibu2 pada umumnya benci dengan kepala desa mereka. Tapi apa boleh buat, ibu2 di desa tidak ada yg berani membantah perintah suaminya.
     Belum lagi sebulan menjalankan tugas untuk periode kedua sebagai kepala desa, demo warga mulai marak menuntut kepala desa turun dan balai desa menjadi sasaran amuk massa, banyak yg kecewa dengan terpilihnya kembali "A" sebagai kepala desa, mereka seperti mendapat mimpi buruk, "Selama lima tahun pertama banyak janji2 yg belum bisa terealisasi, banyak penyimpangan dana pembangunan desa, maka suatu kesalahan besar kalau kepala desa terpilih untuk kali kedua" kata mereka.
    

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri