Nasib Tragis si Bocah Gembala

Sebagaimana anak2 pada umumnya, Riris masih belum faham apa arti kehidupan, bagaimana harus menjaganya agar kelak tidak terjadi kesalahan atau penyesalan . Sebetulnya orangtua tidak ada yg mau mempekerjakan anaknya yg masih dalam usia pra sekolah, kecuali  sangat terpaksa. Begitulah Riris yg baru berusia lima tahun sudah terbiasa menggembalakan ternak peliharaan orangtuanya.
     Hutan pinus yg berada dekat tempat tinggalnya sangat mendukung keluarga untuk ternak sapi dan kerbau, karena tanah masih sangat luas dan berdekatan dengan lahan persawahan, maka ada hukum adat yg tidak tertulis bagi mereka yg punya ternak, bila ternaknya makan daun padi yg masih muda, atau merusak tanaman, akan dikenai denda berupa padi kering sebagai ganti rugi pemilik sawah.
     Maka orangtua Riris menugaskan anaknya setiap hari menjaga sapi dan kerbau milik keluarga mereka. Suatu ketika ada gerombolan babi hutan turun dari perbukitan mau cari air minum, dengan anak2nya yg masih kecil - kecil dan lucu, melihat itu, riris yg masih balita ingin bermain dengan anak2 babi itu, dia tidak tau kalau ulahnya itu bisa saja membahayakan jiwanya. Dia mendekati rombongan babi tersebut, lalu menangkap anaknya untuk mainan, tapi belum sempat bermain induknya marah dan berusaha melindungi anaknya, sambil berlari rombongan babi itu mengejar riris, karena takut, riris naik ke punggung kerbau dan meringkuk karena ketakutan.
   Kalau lagi musim buah, Riris senang sekali bisa memanjat pohon mangga, mulai dari buah muda sampai nanti sudah masak, itu menjadi penambah vitamin bagi pertumbuhannya, kadang dia cari sarang burung puyuh di persawahan sehabis panen, untuk mengambil telurnya dan biasanya langsung dimakan mentah. Dia memang masih kecil tapi lincah dan cekatan dalam setiap langkahnya.
     Riris memang tidak sendirian, di desa masih banyak anak2 sebayanya yg belum masuk sekolah dan ikut bermain di persawahan, sambil mengumpulkan jerami sebagai makanan ternak. Mereka bisa berenang di sungai kecil yg mengaliri sawah mereka sambil mencari welut atau ikan kecil - kecil.
Sementara orangtua mereka sibuk dengan pekerjaan mereka masing - masing, kalau sudah senja mereka baru masuk rumah, makan seadanya, lalu istirahat, setelah bekerja seharian, untuk memper siapkan tenaga esok hari.
     Yang paling menyedihkan bagi Riris, kala sapi dan kerbaunya terpencar di tempat yg berjauhan, dia harus mengumpulkan dulu, baru menggiringnya ke kandang, tapi dasar hewan ....begitu dengar suara orang asing,....tanpa aba- aba semua sapinya akan lari ketakutan, kembali ke hutan pinus.... Bila hari sudah senja, sapi dan kerbau belum masuk kandang, Riris akan diberi hukuman fisik oleh orang tuanya, karena takut dengan hukuman itu, sering kali Riris tidak berani masuk rumah, dia kadang tidur di atas pohon apokad yg kebetulan dahannya besar bisa menyangga badannya yg kurus.
     Begitu juga senja itu, semua sapi perah yg seharusnya sudah di kandang, lari tunggang - langgang kembali ke hutan pinus, gara - gara rombongan ibu2 yg pulang dari pesta pernikahan di desa sebelah.
Riris tidak kuasa menahan laju ternaknya, dia hanya bisa pasrah dan pulang ke rumah, begitu sampai di depan pintu, bocah kecil itu dipukuli ibunya pakai kayu seketemunya, dia menjerit kesakitan mohon ampun...., tapi jeritannya tidak menyurutkan emosi  sang ibu, hingga Riris berhenti menangis dan jatuh tertelungkup di bawah kaki ibunya, dia pingsan. Riris dilarikan ke rumah bidan desa, nafasnya semakin lemah, detak jantungnya juga sangat lemah, bu bidan tidak bisa berbuat lebih banyak dengan peralatan seadanya, Riris tewas.
    Seluruh desa gempar, ibunya menjerit histeris, menyesali perbuatannya, tapi semua sudah terlambat. Bercampur rasa takut dan amarah yg mulai mereda, ibunya sadar kalau Riris sudah letih seharian menggembalakan ternak di ladang. Dia belum makan, ibunya meratapi dan menerawang wajah anaknya, sekarang wajahnya sangat pucat, tanpa jeritan kesakitan, tanpa rasa takut kena marah, tanpa beban, dia sekarang berada di pangkuan ibu yg melahirkannya, dia tidak tau apa -apa,  yg dia tau hanyalah membantu kedua orangtuanya, sekarang dia telah pergi untuk selamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri