Liburan Maut

Kami sekeluarga punya hobby traveling, maka sejak awal tahun sudah merencanakan liburan, sehingga dana liburan sudah ditabung dari awal tahun, soal tempat liburan, nanti menyesuaikan dana yg tersedia. Kebetulan anak anak senang dengan suasana pantai, maka tahun ini kami pergi berlibur di tepi pantai yg ombaknya besar tapi aman bagi anak anak untuk bermain sepuasnya.
     Dari tempat tinggal kami menuju tempat wisata membutuhkan waktu sekitar lima jam, kalau tidak macet. Semua perbekalan kami siapkan dari rumah untuk menghemat sebisa mungkin, dan selama ini bisa berhasil menikmati liburan dengan dana secukupnya. Kami memang tidak bermasalah dengan hidangan, yg penting bisa menikmati liburan setiap ada liburan sekolah, dan keadaan ekonomi yg pas pasan tidak jadi penghalang bagi kami untuk berlibur.
     Setelah puas menikmati pemandangan pantai dan berenang di laut, anak2 ingin makan siang dengan ikan bakar yg sudah kita pesan sebelumnya,belum lagi separuh hidangan kita nikmati, tiba2 orang pada sibuk berlarian menuju pantai , ada yg bawa pelampung, ada yg bawa tali, seketika nafsu makan hilang, kita ikut lari melihat apa yg terjadi disana.
     Ternyata ada sekelompok anak pondok yg dibawa guru ngajinya bertamasya ke pantai tsb, masih usia belasan tahun, tapi karena perbandingan guru pengawas dan murid tidak sebanding, maka sebagian anak tadi lepas dari pengawasan gurunya. Mereka menyewa perahu karet dan rombongan yg berjumlah delapan orang anak itu membawa perahu ke pantai sambil bermain, tanpa terasa mereka sudah masuk daerah rawan ombak besar.
     Tanpa ampun kedelapan anak itu disapu ombak besar, dan hilang terbawa arus pantai, karena penjaga pantai melihat kejadian tersebut, dengan sekuat tenaga, dia berenang menolong anak2 itu, dengan keterbatasannya dia bawa dua anak ke pinggir pantai, namun saat mau kebali menolong yg lain sdh tidak kelihatan lagi.
     Semua tenaga yg ada di pantai di kerahkan untuk membantu penyelamatan anak2, tapi malang, hanya dua orang anak saja yg bisa diselamatkan. Dalam beberapa jam kemudian ditemukan seorang anak sudah dalam kondisi tidak bernyawa, lima orang lainnya sampai kami pulang ke rumah belum ada yg ditemukan. Aku merasa sangat prihatin atas nasib anak2 panti itu, bagaimana perasaan orangtua mereka, mengetahui anak yg mereka titipkan di pondok hilang begitu saja, tanpa pesan.
     Usia mereka masih berkisar antara sepuluh sampai lima belas tahunan, anak- anak yg sedang tumbuh dengan semangat dan tenaga yg enerjik, berani menantang maut tanpa perhitungan, maka saat itu mereka butuh pembimbing yg mengawasi perjalanan hidup mereka sehari - hari, dan saat itu hanya orangtua kandunglah yg bisa dengan tulus membimbing mereka, kecuali orangtua sudah tidak ada, apa boleh buat, anak terpaksa dititipkan pengasuhannya kepada orang lain.
     Memang usia seseorang tidak ada yg tau sampai kapan, tapi paling tidak, saat itu ada orangtua disamping anak, tidak sedang berjauhan seperti saat peristiwa ini terjadi.
    

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri