Hujan Badai diatas Awan
Bagiku kesempatan tidak akan pernah terulang, maka dari itu saya selalu mempergunakan kesempatan yg ada dengan sebaik - baiknya. Sekitar dua puluh lima tahun yg lalu, kakak saya mengutus saya untuk menemani ibunda tercinta berkunjung ke rumahnya, di luar negeri, karena itu ke luar negeri, maka saya harus mengurus semua administrasi yg berhubungan dengan perjalanan ke sana.
Setelah semua urusan administrasi rampung, kami berangkat dari Jakarta - Singapore - Colombo - Zurich - Geneve'. itu adalah pengalaman pertama saya ke luar negeri, tapi ibunda tercinta sudah pernah ke sana sebelumnya, jadi lumayanlah untuk kami berdua tidak terlalu beban mental.
Tiba saatnya kita berangkat, ternyata bahasa yg jadi pengantar adalah Francis, Jerman, baru Inggris. Saat itu bahasa inggrisku sdh lumayan sedikit, walaupun tidak sefasih diplomat, tapi pramugarinya bisa mengerti apa yg saya ucapkan. Dalam perjalanan saat itu, masih terjadi perang Iran - Irak, banyak pesawat yg tidak mau terbang dari zona perang tsb, karena alasan keamanan, tapi Swiss Air yg kami tumpangi harus lewat sana, karena mereka harus menaikkan penumpang dari negara arab, jadilah semua penumpang merasa deg2an, dan berdoa semoga tidak terjadi apa- apa, ternyata benar juga perjalanan kita lancar, tidak ada apa apa.
Tapi saat dalam perjalanan ke Zurich, ada hujan badai dan petir menyambar - nyambar, ngeri banget. Pramugari mondar - mandir memberikan semangat pada para penumpang yg mulai takut, banyak yg mengigil ketakutan, anak2 dipeluk erat oleh orangtuanya, pesawat naik turun, menghindari sambaran petir, hingga membuat kondisi dalam pesawat saat itu sangat mengkhawatirkan, hampir separoh penumpang pusing lalu muntah.
Ibu saya tau kalau saya juga sangat takut, beliau berbisik :" tenang saja.... lipat tangan lalu berdoa, kalaupun pesawat ini kenapa- napa, kita tidak sendirian ". Saya fikir benar juga, kata2 ibunda, apa yg bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan saat itu, kita diatas awan entah berapa ribu mil diatas permukaan laut.
Tapi saat dalam perjalanan ke Zurich, ada hujan badai dan petir menyambar - nyambar, ngeri banget. Pramugari mondar - mandir memberikan semangat pada para penumpang yg mulai takut, banyak yg mengigil ketakutan, anak2 dipeluk erat oleh orangtuanya, pesawat naik turun, menghindari sambaran petir, hingga membuat kondisi dalam pesawat saat itu sangat mengkhawatirkan, hampir separoh penumpang pusing lalu muntah.
Ibu saya tau kalau saya juga sangat takut, beliau berbisik :" tenang saja.... lipat tangan lalu berdoa, kalaupun pesawat ini kenapa- napa, kita tidak sendirian ". Saya fikir benar juga, kata2 ibunda, apa yg bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan saat itu, kita diatas awan entah berapa ribu mil diatas permukaan laut.
Di belakang kami ada orang Negro, naik dari Colombo bersama pasangannya seorang wanita kulit putih, mereka berbicara dalam bahasa inggris, sedang berdebat tentang rencana pernikahan mereka nanti. Kami berkenalan saat mereka mau duduk, omongan mereka mudah dimengerti karena lafalnya jelas, jadi saya bisa mendengar dengan jelas dan mengerti isi percakapan mereka.
Mereka mau ke Zurich ke tempat orangtua sang kekasih, mau berkenalan dengan keluarga calon istrinya, tapi yg laki merasa belum siap secara mental kalau harus bertemu saat itu. Namun karena cintanya yg mendalam, dia ingin segera menikahi pacarnya, terpaksa dia harus memberanikan diri untuk menghadapi segala kesulitan yg akan menghadang langkahnya, bila nanti orangtua sang kekasih tidak merestui mereka.
Akhirnya kami tiba dengan selamat di bandara Zurich sekitar jam lima pagi waktu setempat, karena harus menunggu pesawat ke Geneve', kami istirahat sebentar di lobby bandara, baru sekitar jam tujuh baru ada panggilan penumpang yg mau melanjutkan perjalanan ke Geneve'.
Kami tiba di Geneve' sekitar setengah jam kemudian, kakak dan ibu mertuanya sudah menunggu di sana. Karena cuaca sangat dingin, kami langsung ganti baju woll, yg sudah disediakanoleh kakak saya. Ternyata disana banyak juga orang Indonesia, yg menuntut ilmu dan berbisnis.
Oh ya.. saat pesawat menunggu penumpang masuk di Singapore', semua penumpang disuruh turun, tak terkecuali saya dan ibunda, karena ibu pengen ke toilet, kami jadi tertinggal dari rombongan kita, setelah keluar dari toilet, suasana sudah sepi...tidak tau mereka pada kemana ,.. . untung ada cleaning service yg sedang bersih2, mau memberi petunjuk kemana kita harus melan jutkan perjalanan menuju pesawat kembali.
Orang Eropa itukan kakinya panjang, jadi langkahnya juga cepat, heheheheee....sementara kita berjalan terbiasa santai, apalagi sambil menuntun orangtua....bisa - bisa ketinggalan pesawat ....xixixixiiii, geli deh rasanya kalau ingat itu.

Comments
Post a Comment