Kenangan Pahit Malam Natal

Sudah hampir tengah malam namun  pak Anton tidak bisa tidur, dia termenung dalam kesendiriannya, dia masih menyimpan semua kenangan manis bersama keluarga kecilnya, saat mereka merayakan Natal bersama terakhir sepuluh tahun yg lalu . Mulai pagi hari istrinya Marni sudah mempersiapkan masakan kesukaan anak - anak, opor ayam kampung. Pohon Natal sudah dihias sejak kemarin sore, baju natal anak anak juga sudah dibeli jauh hari, kue kering sebagai cemilan dan sajian tamu juga sudah tertata rapi di atas meja tamu. Mereka makan siang bersama, karena malamnya pak Anton dapat tugas pelayanan jemaat , maka dia harus datang lebih awal. Seluruh anggota keluarga akan pergi ke gereja untuk merayakan Natal bersama seluruh umat kristiani di tanah air.
     Suasana Natal sangat terasa dalam kehidupan keluarga mereka, walaupun hanya sederhana tapi sangat berkesan, dan anak - anak akan mendapat hadiah Natal yg sengaja di sembunyikan bundanya di antara hiasan pohon Natal. Kedua anaknya akan sangat bahagia kalau ada temannya yg datang ke rumah saat liburan Natal, biasanya pak Anton akan membawa mereka menikmati es krim sambil main sepatu roda di lapangan yg ada di tengah kota.
     Anton menghela nafas dalam...dalam...,.semua peristiwa tragis malam itu kembali menari - nari dalam bola matanya. Arista dan Marvel masing masing duduk mengapit bundanya di deretan kursi kedua dari depan, sedangkan Anton sedang bertugas melayani jemaat gereja yg datang berjubel malam itu untuk perayaan Natal umum.
     Karena semua sibuk menyediakan kursi untuk jemaat, maka Anton tidak mendengar suara ledakan bom yg menggelegar di depan altar, tapi dia lihat,  tiba - tiba gelap dan suasana jadi histeris. Anton lari ke dalam gereja, banyak yg tergeletak di lantai, dia mencari anak istrinya, dia panggil nama mereka secara bergantian tapi tidak ada jawaban....dia hanya mendengar jerit tangis...dan erangan kesakitan para korban. Biadab !...begitu kejam mereka yg membunuh orang yg sedang beribadah ..?!.
     Kedua anak dan Istri pak Anton tewas di tempat, pak Anton geram...., peluh bercucuran...amarah memuncak sampai ke ubun..ubun..., ingin rasanya menembak mati pelakunya,....?!, kedua anak dan istri pak Anton... tewas dengan anggota badan yg berserakan,...Ya Tuhan...inikah namanya negara beragama....? orang membunuh atas nama agama...?, orang memaksakan kehendak atas nama agama...? kenapa begitu  kejam,....???, kalau mau jihad,...kenapa tidak pergi ke negara yg sedang perang...? salah apa anak2 ini,....? salah apa istriku,...? mereka tidak tau apa2 tentang politik, mereka tidak tau tentang idiologi, mereka hanya ingin beribadah sesuai keyakinan kami sekeluarga.
     Kenapa mereka harus dibunuh...? begitulah gejolak hati pak Anton, tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Pak Anton merasa hidupnya hampa, tak ada lagi harapan, tak ada lagi canda anak2nya, tak ada lagi kue natal, tak ada lagi kebahagiaan. Dia ingin mengakhiri hidupnya...menyusul anak - istrinya.
     Sekarang sudah sepuluh tahun berlalu, teror bom masih tetap mengancam masyarakat di tanah air, ada rasa cemas kalau mengikuti ibadah, apa yg terjadi sesungguhnya...?, kenapa pemerintah tidak mampu melindungi rakyatnya dari rasa cemas yg berkepanjangan,..?, itulah yg berkecamuk di benak pak Anton selama ini.
     Bahkan setelah peristiwa malam natal itu, pak Anton ingin jadi sukarelawan untuk membasmi teroris dari bumi indonesia, tapi para pemuka agama kristiani melarangnya untuk balas dendam. "Dedam tidak menyelesaikan masalah, biarlah hukum dariNya yg membalaskan semua perbuatannya. Kejahatan tidak harus dibalas dengan kejahatan..., biarlah mereka sendiri yg menanggung semua akibat dari perbuatannya, jangan kotori tanganmu." begitu kata pastor dan pendeta.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri