Istri digadaikan, anak digilas
Andai waktu bisa di putar ulang, saya akan menata diri dengan baik, dan berhati - hati memilih pasangan hidup. Tapi semua sudah terlanjur, dan seperti pepatah orang bijak..."penyesalan selalu datang terlambat". Sampai sekarang saya tidak tau kenapa semua ini harus terjadi pada saya, dosa siapakah yg sedang kutanggung, mungkinkah ini sudah garis tanganku...? atau semua salah saya karena waktu menerima pinangan suami sebetulnya saya mengabaikan suara hati kecil ini.
Kami memang bukan orang yg mapan dalam kehidupan, kami memulai semua dari nol, karena sejak lulus kuliah hingga di terima kerja di perusahaan ini, kami hanya mengandalkan diri sendiri, tidak mungkin mengharapkan bantuan dari orangtua, karena sejak masih remaja kedua orangtua kami sudah berpulang. Karena latar belakang kehidupan yg samalah yg membuat kami bersahabat.
Suami lebih tua dua tahun dari saya, saya sarjana ekonomi, sedangkan suami sarjana hukum, maka kalau berdebat tentang apa saja suami tidak pernah mau kalah, ada saja dalil yg di jadikan referensi untuk meyakinkan orang lain tentang alasannya. Saat masih berteman baik, suami tidak pernah menunjukkan perilaku yg kurang baik, dia sangat care, perhatian, suka menolong, dan tidak pernah marah.
Dia memang menjadi idola teman kampus, banyak yg ingin menjadi kekasihnya, dia tampan, cerdas, dan sangat perhatian. Semua yg pernah mengenalnya akan terperangah bila tau bagaimana sisi gelap kepribadiannya yg sebenarnya. Selama ini dia menyimpan sisi buruknya dari pandangananku, dengan penampilan yg dia tunjukkan di depan umum.
Kurang lebih kami bersahabat selama tiga tahun, sebelum dia menyampaikan niatnya meminta saya jadi kekasihnya. Separoh hati saya tidak percaya bahwa dia serius dengan ucapannya, karena selama ini saya sudah menganggapnya sebagai kakak, ada rasa canggung kalau persahabatan itu kelak ternodai, saya terus terang padanya, kalaupun dia tampan dan menjadi idola kampus, saya tidak ingin menjadi kekasihnya. Maka dengan gaya bersimpuh di depanku, dia memohon saya mau jadi pendampingnya sabtu depan, di gedung pertemuan kampus dalam acara wisuda sarjana hukum, karena saudaranya dia tidak ada yg bisa datang sebagai pendamping.
Karena alasan itulah saya mau datang mendampingi dia, kasihan begitu pikir saya, dia sudah tidak punya orangtua, saya juga demikian. Betapa bahagianya dia saat melihat saya datang dan duduk di tempat para undangan keluarga wisudawan/ti, sengaja saya ajak teman kost agar ada teman ngobrol. Setelah acara wisuda selesai banyak yg mengajak kami foto bersama, dia memperkenalkan saya pada hampir semua temannya juga pada dosennya, sambil mengucapkan selamat atas prestasi yg dia raih sebagai wisudawan terbaik tahun itu.
Besoknya semua teman kampus mebicarakannya, karena selama ini dia belum pernah membawa seorang wanita pendamping resmi, mereka menuduh saya munafik, karena tidak pernah cerita kalau antara kami ada hubungan istimewa. Saya coba menjelaskan hal yg sesungguhnya, tapi mereka tidak percaya. Sejak saat itu hubungan saya dengan dia menjadi lebih dekat, dia selalu curhat tentang pengalamannya melamar pekerjaan, test, dan wawancara, hampir di semua perusahaan.
Begitulah semua pengalamannya mencari pekerjaan tidak ada yg luput dari perhatian saya, hingga suatu saat dia datang dengan selembar kertas panggilan kerja dari perusahaan bonafide di jakarta, dia diterima jadi tata usaha untuk merekrut pegawai perusahaan. Dia bersumpah di depan saya, bahwa nanti akan datang melamar saya untuk menjadi pendamping hidupnya, bila hati saya sudah siap mene rimanya.
Begitu saya lulus kuliah, dia mengajak saya masuk di perusahaannya untuk bergabung, dia ternyata sudah menceritakan semua tentang hubungan kami pada bosnya, maka dengan senang hati mereka menerima saya kerja sebagai bendahara di perusahaan itu. Kami makin dekat satu sama lain, saudara kami juga sangat mendukung hubungan kami ke arah yg lebih serius, maka dengan pesta seadanya kami menikah di Jakarta pada bulan Desember tahun itu juga.
Hampir genap setahun pernikahan, kami dikaruniai seorang putra yg sehat dan gagah seperti ayahnya. Kami beri nama Putra, dan dua tahun berikutnya, kami dianugrahi seorang putri yg mirip dengan mamanya. Kami beri nama Putri, lengkap sudah kebahagiaan kami. Kami mulai merencanakan beli rumah di pinggiran kota Jakarta, tempat kami membesarkan anak anak.
Karena kami berdua bekerja mulai pagi, dan baru pulang malam hari, maka anak - anak kami titipkan di tempat penitipan anak dekat kantor. Semua berjalan dengan lancar. Walaupun kami berdua capek habis kerja seharian, tapi demi anak kami tetap semangat untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan esok hari.
Tiba saatnya Putra masuk sekolah, timbul masalah baru siapa yg menemani kalau pulang sekolah, maka tak ada pilihan lain, kami harus mencari pembantu rumah tangga untuk menemani anak anak di rumah setelah pulang sekolah. Pertama punya pembantu dari teman yg masih ada hubungan saudara dengan pembantunya, masih baru lulus smp, tapi sudah biasa ikut orang katanya, kami jelaskan semuanya tentang tugasnya nanti kalau kami masih di kantor.
Ternyata dia adalah gadis nakal, dia sering membawa teman temannya ke rumah saat kami bekerja, dan anak - anak di suruh tidur dengan cepat, agar dia bisa bebas pergi kemana dia suka. Putra terkena penyakit diare, maka saya harus ambil cuti untuk menemaninya di RS selama seminggu. Baru seminggu Putra pulang dari RS, kini adiknya kena demam berdarah, saya terpaksa ijin lagi untuk menemani di RS.
Hampir setiap bulan kami harus bergantian ijin untuk menemani anak di RS, lama - lama saya merasa tidak enak sama bos perusahaan, maka saya berembuk dengan suami apa jalan terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. Kami menghitung semua untung ruginya bila satu opsi diambil, begitu juga kalau harus memilih yg lainnya. Akhirnya suami memutuskan saya berhenti bekerja demi anak - anak, saya bisa bekerja nanti kalau anak - anak sudah bisa mandiri, dan tidak butuh lagi menemani seperti sekarang ini.
Sejak saya berhenti bekerja, penghasilan kami berkurang hampir lima puluh persen, untuk menutupi kekurangan ini, suami lebih banyak lembur di kantor, kadang pulangnya sampai larut malam. Saya berusaha seratus persen membimbing anak dalam pelajarannya, maka waktu saya tidak ada yg terbuang sia - sia. Bahkan saya hampir tidak ingat lagi kapan terakhir membukakan pintu untuk suami, karena saya sudah tidur saat dia pulang.
Seperti pepatah orang bijak "Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih". Suami ternyata memakai uang perusahaan, maka dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, karena saya tidak mau dia dimasukkan penjara, semua yg ada kami jual untuk menutupi uang yg dia pakai.
Suami jadi suka mabuk, pulang larut malam, saya kasihan sama anak - anak, mereka jadi takut sama ayahnya, kadang saya memberikan masukan agar dia tidak mabuk2an, tapi malah dipukul dan ditendang.
Dia jadi pemarah, dan ringan tangan, bergaulnya juga tidak genah, yg paling menyakitkan hati, dia datang ke rumah bersama preman dalam kondisi mabuk berat, ternyata dia kalah judi, dan yg dia jaminkan adalah istrinya, duniaku runtuh malam itu, saya takut anak -anak bangun karena ada kegaduhan, mereka saya kunci di dalam kamar, karena saya takut ancaman akan digilir di depan anak -anak oleh suami dan teman temannya, kalau tidak melayani dengan baik.
Saya balik mengancam mereka, kalau sampai ada yg berani menyentuh kulit saya, maka saya akan bunuh diri di depan mereka, saya sudah siapkan pisau dapur untuk mengyakinkan tekad saya pada mereka. Tapi kekuatan mereka jauh diatas saya, maka anda tau apa yg terjadi selanjutnya. Saya merasa diri ini tidak ada bedanya dengan sampah, kotor, hina dan tak berguna, maka saya bertekad untuk mengakhiri semuanya sekarang juga.
Entah siapa yg membawa saya ke rumah sakit, tapi saya sangat menyesal masih bernafas, saya lihat sekeliling kamar bercat putih bersih itu, infus menggantung di samping kiri dan kananku, ada oksigen di sisi atas, suster yg menunggu tersenyum ramah, mengucapkan selamat pagi.
Setelah beberapa saat syuman, suster membawa kedua anakku masuk ruangan, mereka menangis melihat mamanya terbaring di tempat tidur.
Aku tidak melihat suami disana, hanya ada polisi yg berjaga - jaga diluar kamar, merekalah yg membawa saya kesini, setelah menerima laporan dari seseorang atas peristiwa yg kualami. Suami dan teman - temannya sudah diamankan polisi tadi malam. Mereka adalah geng narkoba yg suka mabuk2an di cafe.
Banyak yg bersimpati dengan nasib malang saya, maka dengan sumbangan dari berbagai pihak, saya bebas biaya perawatan, dan sisanya cukup untuk perawatan selanjutnya. Saya tidak tega meninggalkan anak balitaku yg masih polos hatinya dan butuh perlindungan kedua orangtuanya. Maka kedua anakku saya bawa jauh dari kota Jakarta ke suatu desa tempat kakekku dulu tinggal. Saya ingin mengubur semua kenangan pahit di Jakarta, saya tidak ingin kembali pada suami, maka melalui seorang pengacara kuputuskan untuk cerai saja.
Entah bagaimana caranya, mantan suami hanya beberapa bulan dipenjara sudah bebas, yg paling apesnya lagi dia datang ke desa menyusul kami, ingin merebut kedua anakku dari tangan saya, dia mengancam akan membunuh kedua anak itu di depanku, kalau saya berani menolak permintaannya.
Anak - anak mendekap saya seolah takut di pisahkan, tapi ayah mereka sudah kesetanan, maka dengan naik motor yg dia bawa, dia tabrakkan ke saya, saya secara reflex menyingkir, tapi karena licin, kami bertiga terjatuh. Tanpa ampun mantan suami saya menggilas anak - anaknya yg masih balita itu, saya teriak...teriak minta ....tolong...tolong....dengan sekuat tenaga, hingga para tetangga datang menolong kami.
Mantan suami pergi melarikan diri, tapi saat itu juga ketua lingkungan melaporkan kejadian itu pada yg berwajib. Sampai sekarang mantan suami masih menjadi buronan, saya kawatir suatu saat nanti dia datang menyakiti saya dan anak - anak.
Seperti pepatah orang bijak "Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih". Suami ternyata memakai uang perusahaan, maka dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatannya, karena saya tidak mau dia dimasukkan penjara, semua yg ada kami jual untuk menutupi uang yg dia pakai.
Suami jadi suka mabuk, pulang larut malam, saya kasihan sama anak - anak, mereka jadi takut sama ayahnya, kadang saya memberikan masukan agar dia tidak mabuk2an, tapi malah dipukul dan ditendang.
Dia jadi pemarah, dan ringan tangan, bergaulnya juga tidak genah, yg paling menyakitkan hati, dia datang ke rumah bersama preman dalam kondisi mabuk berat, ternyata dia kalah judi, dan yg dia jaminkan adalah istrinya, duniaku runtuh malam itu, saya takut anak -anak bangun karena ada kegaduhan, mereka saya kunci di dalam kamar, karena saya takut ancaman akan digilir di depan anak -anak oleh suami dan teman temannya, kalau tidak melayani dengan baik.
Saya balik mengancam mereka, kalau sampai ada yg berani menyentuh kulit saya, maka saya akan bunuh diri di depan mereka, saya sudah siapkan pisau dapur untuk mengyakinkan tekad saya pada mereka. Tapi kekuatan mereka jauh diatas saya, maka anda tau apa yg terjadi selanjutnya. Saya merasa diri ini tidak ada bedanya dengan sampah, kotor, hina dan tak berguna, maka saya bertekad untuk mengakhiri semuanya sekarang juga.
Entah siapa yg membawa saya ke rumah sakit, tapi saya sangat menyesal masih bernafas, saya lihat sekeliling kamar bercat putih bersih itu, infus menggantung di samping kiri dan kananku, ada oksigen di sisi atas, suster yg menunggu tersenyum ramah, mengucapkan selamat pagi.
Setelah beberapa saat syuman, suster membawa kedua anakku masuk ruangan, mereka menangis melihat mamanya terbaring di tempat tidur.
Aku tidak melihat suami disana, hanya ada polisi yg berjaga - jaga diluar kamar, merekalah yg membawa saya kesini, setelah menerima laporan dari seseorang atas peristiwa yg kualami. Suami dan teman - temannya sudah diamankan polisi tadi malam. Mereka adalah geng narkoba yg suka mabuk2an di cafe.
Banyak yg bersimpati dengan nasib malang saya, maka dengan sumbangan dari berbagai pihak, saya bebas biaya perawatan, dan sisanya cukup untuk perawatan selanjutnya. Saya tidak tega meninggalkan anak balitaku yg masih polos hatinya dan butuh perlindungan kedua orangtuanya. Maka kedua anakku saya bawa jauh dari kota Jakarta ke suatu desa tempat kakekku dulu tinggal. Saya ingin mengubur semua kenangan pahit di Jakarta, saya tidak ingin kembali pada suami, maka melalui seorang pengacara kuputuskan untuk cerai saja.
Entah bagaimana caranya, mantan suami hanya beberapa bulan dipenjara sudah bebas, yg paling apesnya lagi dia datang ke desa menyusul kami, ingin merebut kedua anakku dari tangan saya, dia mengancam akan membunuh kedua anak itu di depanku, kalau saya berani menolak permintaannya.
Anak - anak mendekap saya seolah takut di pisahkan, tapi ayah mereka sudah kesetanan, maka dengan naik motor yg dia bawa, dia tabrakkan ke saya, saya secara reflex menyingkir, tapi karena licin, kami bertiga terjatuh. Tanpa ampun mantan suami saya menggilas anak - anaknya yg masih balita itu, saya teriak...teriak minta ....tolong...tolong....dengan sekuat tenaga, hingga para tetangga datang menolong kami.
Mantan suami pergi melarikan diri, tapi saat itu juga ketua lingkungan melaporkan kejadian itu pada yg berwajib. Sampai sekarang mantan suami masih menjadi buronan, saya kawatir suatu saat nanti dia datang menyakiti saya dan anak - anak.

Comments
Post a Comment