Jangan Culik Anakku
Bagi seorang ibu, anak adalah segalanya, dia akan berjuang untuk kelangsungan hidup anaknya. Begitu juga Juminem yg tinggal di desa Suka maju, karena keadaan ekonomi keluarga sangat memprihatinkan, terpaksa harus rela meninggalkan buah hatinya yg masih bayi di kampung halaman untuk mencari nafkah ke negeri orang. Juminem pernah sekolah hanya sampai kelas tiga sd di kampungnya, dia tidak mungkin melanjutkan sekolah dalam keadaan ekonomi keluarganya yg sangat minus, untuk makan sehari - hari saja harus mengumpulkan barang bekas atau sampah plastik dulu, baru hasil penjualannya nanti untuk beli beras ala kadarnya. Dalam usia belasan tahun dia di nikahkan ayahnya pada anak tetangga kampung yg juga sama - sama pencari barang bekas atau pemulung. Melihat tetangganya yg sudah berhasil merubah nasib, menjadi orang kaya di desanya, setelah bekerja sebagai tkw di negeri orang, Juminem ingin seperti mereka.
Orangtua Juminem tidak keberatan saat anaknya mohon ijin untuk menjadi tkw ke arab saudi, bayinya dia titipkan pada kedua orangtuanya, sementara suaminya tinggal bersama orangtuanya untuk membantu mengasuh anak mereka. Juminem berangkat bersama tetangganya yg sudah pengalaman menjadi tkw di arab saudi. Dia bawa baju anaknya sebagai pengobat rindu, dia simpan rindunya dalam hati dan dia ingin anaknya kelak bisa sekolah, bisa makan makanan bergizi, bisa beli baju baru kalau pas lebaran, dll.
Setelah dipenampungan semua tkw yg datang dari seluruh pelosok pulau jawa, di beri pelatihan cara masak dengan menggunakan peralatan modern. Juminem sangat tekun mengikuti semua latihan yg di berikan para tutor, dia ingin semua berjalan dengan lancar. Satu bulan di penampungan juminem mendapat giliran untuk di berangkatkan bersama tiga puluh orang lainnya yg di dampingi dua orang staff perusahaan.
Selama kurang lebih delapan jam penerbangan, mereka sampai di Riyad, dan dari sana mereka sudah di bagi bagi sesuai pesanan majikannya masing - masing. Juminem di jemput seorang pria tinggi besar, dengan janggut panjang bersurban, ada rasa takut dalam hati kecilnya menduga - duga perangai calon majikannya ini. Seketika Juminem merinding membayangkan hal yg akan dia hadapi nanti. Dalam perjalanan ke rumah majikannya Juminem tidak henti - hentinya berdoa dan wajah anaknya terbayang di wajahnya, dia tiba - tiba rindu berat kampung halamannya yg penuh dengan tumpukan barang bekas, tapi hatinya temteram disana.
Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di rumah majikannya, dari dalam rumah muncul seorang wanita muda bercadar hitam menyeringai, Juminem semakin ciut hatinya, kakinya mulai gemetar, lemas dan tak berdaya, lalu terjatuh. Suami istri calon majikannya bigung, mereka panggil dokter keluarga untuk memeriksa kesehatan Juminem, mereka takut ada penyakit kronis.
Setelah di suntik vitamin, Juminem siuman, dia sudah ada di kamar tidur dan disampingnya berdiri seorang dokter. Juminem ingin bertanya pada dokter apa yg terjadi padanya, tapi lidahnya kaku tidak bisa bergerak . Dia mendengar mereka berbincang tapi dia tidak tau apa yg dokter katakan pada majikannya, dia tidak mengerti bahasa mereka.
Juminem dikasih makan dan minum oleh majikannya, dengan bahasa isyarat, majikannya menyuruh Juminem makan dulu, baru tidur untuk memulihkan tenaganya , setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta. Karena kecapekan Juminem tidur hampir enam jam, saat dia bangun siang sudah berganti malam.
Juminem parasnya cantik, badannya mungil, lincah dan cekatan, ternyata dia sangat disukai majikannya, dia pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Majikannya memang masih berdua saja karena belum ada momongan . Mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya masing - masing. Kalau majikan pria suka berangkat agak siang tapi pulangnya sampai malam, sementara majikan putri berangkat lebih pagi dan pulangnya masih sore.
Biasanya setelah pekerjaan selesai Juminem menghubungi suaminya di kampung dengan modal hp yg dibelikan secara kredit oleh suaminya, dia sangat rindu dengan anaknya, dia akan mengirim uang untuk kebutuhan keluarga di kampung mulai bulan depan sesuai janji majikannya.
Begitu Juminem menutup telphonenya, ada orang yg datang, dia segera berlari menuju pintu rumah, dia lihat majikan pria pulang dengan bercak darah di wajah dan bajunya. Dia berjalan tertatih- tatih, dia minta tolong dengan bahasa isyarat pada juminem untuk mengambilkan obat di lemari obat, juminem membersihkan bercak darah di wajah majikannya, lalu mengoleskan obat pada lukanya.
Majikannya memberikan uang tips pada Juminem tapi Juminem menolak, majikannya menambah jumlahnya, dan menuliskan angka yg sangat besar, Juminem tetap menolak dengan menggelengkan kepala. Juminem bergegas mau pergi, tapi majikannya menahan tangannya lalu minta tolong supaya majikannya dituntun dulu masuk kamarnya.
Juminem polos hatinya, dia tuntun majikannya ke tempat tidur, lalu terjadilah peristiwa yg tak terlupakan oleh Juminem, dia hanya orang kecil, jauh dari sanak saudara, dia tidak punya keberanian untuk menolak hasrat majikannya, dia juga tidak berani memberitahukan kejadian itu pada majikan putri, dia takut memberitahukan suaminya. Dia simpan semua dalam hati, dia bekerja seperti biasa biar majikan putrinya tidak curiga.
Setelah kejadian itu majikan pria sangat perhatian sama Juminem, setiap hari dia sempatkan pulang untuk makan siang bersama Juminem di rumah, majikannya rajin mengirim uang ke kampung untuk kebutuhan keluarga Juminem, tanpa disadari hubungan mereka layaknya seperti suami - istri.
Juminem lama - lama jadi terbiasa makan siang dengan majikan pria tanpa beban apa apa, hingga suatu saat Juminem pusing tidak karuan disertai mual - mual, Juminem hamil, Juminem bingung, Juminem mengunci kamar sehari penuh. Majikannya ikut bingung, tidak biasanya Juminem telat bangun, apalagi sampai mengunci diri di kamar.
Pagi itu majikan putri memanggil dokter untuk memeriksa kesehatan Juminem, dia tidak ingin pembantu yg baik itu kenapa - napa, dia ingin memastikan kesehatan Juminem tidak membahayakan jiwanya. Tapi sebelum dokter memeriksa Juminem, majikan pria sudah berpesan kalau Juminem positif hamil, jangan sampai istrinya tau, tapi dokter harus memberikan vitamin penguat janin, agar anak yg dikandungan Juminem sehat dan kuat.
Begitulah kenyataannya Juminem hamil, dokter memberikan vatamin dan semua pesan tuan rumah dokter turuti, jadi majikan putri tidak tau kalau juminem hamil. Begitu tau Juminem mengandung anaknya, majikan putra membawa Juminem ke Kiyai untuk meresmikan perkawinan kontrak mereka sampai anak yg di kandung Juminem lahir.
Semakin hari badan Juminem semakin besar, bahkan baju yg dibawa dari kampung tidak satupun bisa dipakai lagi, Juminem memberitahukan semua masalahnya pada suami kontraknya. Majikan putrinya merasa ada yg tidak beres dengan pembantunya, tapi dia takut kalau Juminem yg sudah sangat dia sayangi tersinggung. Dia tanya suaminya apakah punya rasa curiga seperti dirinya pada pembantunya, suaminya hanya diam, tidak menjawab pertanyaan istrinya.
Tengah malam Juminem merasakan kontraksi yg sangat luar biasa, dia menahan rasa sakit dengan mengigit serbet ditangannya, mungkin karena sudah ada hubungan bathin antara dia dan majikan putra, maka malam itu juga suami kontraknya bangun dan langsung menemani Juminem ke rumah sakit untuk melahirkan. Dalam waktu kurang dari setengah jam lahirlah seorang putri nan cantik perpaduan dua suku bangsa. Majikan putranya alias suami kontraknya sangat bahagia, tanpa sadar dia menciumi Juminem di depan para suster yg merawatnya.
Kalau Juminem dan suami kontraknya bahagia karena mendapat momongan, tidak demikian dengan majikan putri, saat itu juga dia melaporkan perselingkuhan suami dengan pembantunya pada polisi, dalam keadaan masih lemah habis melahirkan Juminem harus meringkuk di tahanan polisi, sampai ada bukti yg meringankan atau membatalkan pengaduan tersebut.
Juminem tidak mengerti hukum, dia hanya ingin merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik dari hanya sebagai pemulung, dia hanya merasa bertanggung jawab menyekolahkan anaknya di kampung, dia tidak punya itikad sedikitpun untuk menghianati majikan putri, dia tidak berdaya dengan tipudaya majikan pria yg ingin punya keturunan. Sekarang dia terpuruk dalam kubangan derita karena tidak berdaya.
Seminggu ditahanan Juminem disuruh majikan putri untuk menandatangani nota kesepakatan dalam bahasa arab dan bahasa inggeris yg isinya tidak dimengerti olehnya sebagai syarat kebebasannya. Dia harus mengiklaskan anak yg baru lahir itu menjadi milik majikannya, dan Juminem tidak berhak meminta imbalan apapun sebagai konpensasi pada majikannya. Juminem harus segera kembali ke Indonesia karena kontraknya sudah habis. Mereka mengusir Juminem secara halus dari rumahnya, majikan putra yg dulu sayang dan ramah tidak berani bertemu dengan juminem, karena takut ancaman istrinya.
Juminem kehilangan anaknya, juga pekerjaannya, dia coba mencari keadilan tapi tidak tau harus kemana, dia memang tidak pernah sekolah maka wajar kalau dia tidak paham. Dia merasa ditipu majikan putranya, mereka sudah menculik anaknya, yg masih butuh asi, Juminem berjalan sambil membawa tas dari desa, tidak tentu arah, dia ingin anaknya kembali, dia tidur di kolong jembatan bersama teman- teman yg dari indonesia, yg senasib sepenanggungan.
Juminem curhat pada temannya sesama tkw yg tersingkir karena ulah majikannya, maka mereka memberanikan diri untuk berunjuk rasa menuntut hak Juminem atas anaknya dengan topik "Jangan Culik Anakku ", bukannya di dengar malah mereka ditangkap dan di pulangkan ke Indonesia.
Setelah dipenampungan semua tkw yg datang dari seluruh pelosok pulau jawa, di beri pelatihan cara masak dengan menggunakan peralatan modern. Juminem sangat tekun mengikuti semua latihan yg di berikan para tutor, dia ingin semua berjalan dengan lancar. Satu bulan di penampungan juminem mendapat giliran untuk di berangkatkan bersama tiga puluh orang lainnya yg di dampingi dua orang staff perusahaan.
Selama kurang lebih delapan jam penerbangan, mereka sampai di Riyad, dan dari sana mereka sudah di bagi bagi sesuai pesanan majikannya masing - masing. Juminem di jemput seorang pria tinggi besar, dengan janggut panjang bersurban, ada rasa takut dalam hati kecilnya menduga - duga perangai calon majikannya ini. Seketika Juminem merinding membayangkan hal yg akan dia hadapi nanti. Dalam perjalanan ke rumah majikannya Juminem tidak henti - hentinya berdoa dan wajah anaknya terbayang di wajahnya, dia tiba - tiba rindu berat kampung halamannya yg penuh dengan tumpukan barang bekas, tapi hatinya temteram disana.
Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di rumah majikannya, dari dalam rumah muncul seorang wanita muda bercadar hitam menyeringai, Juminem semakin ciut hatinya, kakinya mulai gemetar, lemas dan tak berdaya, lalu terjatuh. Suami istri calon majikannya bigung, mereka panggil dokter keluarga untuk memeriksa kesehatan Juminem, mereka takut ada penyakit kronis.
Setelah di suntik vitamin, Juminem siuman, dia sudah ada di kamar tidur dan disampingnya berdiri seorang dokter. Juminem ingin bertanya pada dokter apa yg terjadi padanya, tapi lidahnya kaku tidak bisa bergerak . Dia mendengar mereka berbincang tapi dia tidak tau apa yg dokter katakan pada majikannya, dia tidak mengerti bahasa mereka.
Juminem dikasih makan dan minum oleh majikannya, dengan bahasa isyarat, majikannya menyuruh Juminem makan dulu, baru tidur untuk memulihkan tenaganya , setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta. Karena kecapekan Juminem tidur hampir enam jam, saat dia bangun siang sudah berganti malam.
Juminem parasnya cantik, badannya mungil, lincah dan cekatan, ternyata dia sangat disukai majikannya, dia pekerja keras dan penuh tanggung jawab. Majikannya memang masih berdua saja karena belum ada momongan . Mereka sangat sibuk dengan pekerjaannya masing - masing. Kalau majikan pria suka berangkat agak siang tapi pulangnya sampai malam, sementara majikan putri berangkat lebih pagi dan pulangnya masih sore.
Biasanya setelah pekerjaan selesai Juminem menghubungi suaminya di kampung dengan modal hp yg dibelikan secara kredit oleh suaminya, dia sangat rindu dengan anaknya, dia akan mengirim uang untuk kebutuhan keluarga di kampung mulai bulan depan sesuai janji majikannya.
Begitu Juminem menutup telphonenya, ada orang yg datang, dia segera berlari menuju pintu rumah, dia lihat majikan pria pulang dengan bercak darah di wajah dan bajunya. Dia berjalan tertatih- tatih, dia minta tolong dengan bahasa isyarat pada juminem untuk mengambilkan obat di lemari obat, juminem membersihkan bercak darah di wajah majikannya, lalu mengoleskan obat pada lukanya.
Majikannya memberikan uang tips pada Juminem tapi Juminem menolak, majikannya menambah jumlahnya, dan menuliskan angka yg sangat besar, Juminem tetap menolak dengan menggelengkan kepala. Juminem bergegas mau pergi, tapi majikannya menahan tangannya lalu minta tolong supaya majikannya dituntun dulu masuk kamarnya.
Juminem polos hatinya, dia tuntun majikannya ke tempat tidur, lalu terjadilah peristiwa yg tak terlupakan oleh Juminem, dia hanya orang kecil, jauh dari sanak saudara, dia tidak punya keberanian untuk menolak hasrat majikannya, dia juga tidak berani memberitahukan kejadian itu pada majikan putri, dia takut memberitahukan suaminya. Dia simpan semua dalam hati, dia bekerja seperti biasa biar majikan putrinya tidak curiga.
Setelah kejadian itu majikan pria sangat perhatian sama Juminem, setiap hari dia sempatkan pulang untuk makan siang bersama Juminem di rumah, majikannya rajin mengirim uang ke kampung untuk kebutuhan keluarga Juminem, tanpa disadari hubungan mereka layaknya seperti suami - istri.
Juminem lama - lama jadi terbiasa makan siang dengan majikan pria tanpa beban apa apa, hingga suatu saat Juminem pusing tidak karuan disertai mual - mual, Juminem hamil, Juminem bingung, Juminem mengunci kamar sehari penuh. Majikannya ikut bingung, tidak biasanya Juminem telat bangun, apalagi sampai mengunci diri di kamar.
Pagi itu majikan putri memanggil dokter untuk memeriksa kesehatan Juminem, dia tidak ingin pembantu yg baik itu kenapa - napa, dia ingin memastikan kesehatan Juminem tidak membahayakan jiwanya. Tapi sebelum dokter memeriksa Juminem, majikan pria sudah berpesan kalau Juminem positif hamil, jangan sampai istrinya tau, tapi dokter harus memberikan vitamin penguat janin, agar anak yg dikandungan Juminem sehat dan kuat.
Begitulah kenyataannya Juminem hamil, dokter memberikan vatamin dan semua pesan tuan rumah dokter turuti, jadi majikan putri tidak tau kalau juminem hamil. Begitu tau Juminem mengandung anaknya, majikan putra membawa Juminem ke Kiyai untuk meresmikan perkawinan kontrak mereka sampai anak yg di kandung Juminem lahir.
Semakin hari badan Juminem semakin besar, bahkan baju yg dibawa dari kampung tidak satupun bisa dipakai lagi, Juminem memberitahukan semua masalahnya pada suami kontraknya. Majikan putrinya merasa ada yg tidak beres dengan pembantunya, tapi dia takut kalau Juminem yg sudah sangat dia sayangi tersinggung. Dia tanya suaminya apakah punya rasa curiga seperti dirinya pada pembantunya, suaminya hanya diam, tidak menjawab pertanyaan istrinya.
Tengah malam Juminem merasakan kontraksi yg sangat luar biasa, dia menahan rasa sakit dengan mengigit serbet ditangannya, mungkin karena sudah ada hubungan bathin antara dia dan majikan putra, maka malam itu juga suami kontraknya bangun dan langsung menemani Juminem ke rumah sakit untuk melahirkan. Dalam waktu kurang dari setengah jam lahirlah seorang putri nan cantik perpaduan dua suku bangsa. Majikan putranya alias suami kontraknya sangat bahagia, tanpa sadar dia menciumi Juminem di depan para suster yg merawatnya.
Kalau Juminem dan suami kontraknya bahagia karena mendapat momongan, tidak demikian dengan majikan putri, saat itu juga dia melaporkan perselingkuhan suami dengan pembantunya pada polisi, dalam keadaan masih lemah habis melahirkan Juminem harus meringkuk di tahanan polisi, sampai ada bukti yg meringankan atau membatalkan pengaduan tersebut.
Juminem tidak mengerti hukum, dia hanya ingin merubah nasib keluarganya menjadi lebih baik dari hanya sebagai pemulung, dia hanya merasa bertanggung jawab menyekolahkan anaknya di kampung, dia tidak punya itikad sedikitpun untuk menghianati majikan putri, dia tidak berdaya dengan tipudaya majikan pria yg ingin punya keturunan. Sekarang dia terpuruk dalam kubangan derita karena tidak berdaya.
Seminggu ditahanan Juminem disuruh majikan putri untuk menandatangani nota kesepakatan dalam bahasa arab dan bahasa inggeris yg isinya tidak dimengerti olehnya sebagai syarat kebebasannya. Dia harus mengiklaskan anak yg baru lahir itu menjadi milik majikannya, dan Juminem tidak berhak meminta imbalan apapun sebagai konpensasi pada majikannya. Juminem harus segera kembali ke Indonesia karena kontraknya sudah habis. Mereka mengusir Juminem secara halus dari rumahnya, majikan putra yg dulu sayang dan ramah tidak berani bertemu dengan juminem, karena takut ancaman istrinya.
Juminem kehilangan anaknya, juga pekerjaannya, dia coba mencari keadilan tapi tidak tau harus kemana, dia memang tidak pernah sekolah maka wajar kalau dia tidak paham. Dia merasa ditipu majikan putranya, mereka sudah menculik anaknya, yg masih butuh asi, Juminem berjalan sambil membawa tas dari desa, tidak tentu arah, dia ingin anaknya kembali, dia tidur di kolong jembatan bersama teman- teman yg dari indonesia, yg senasib sepenanggungan.
Juminem curhat pada temannya sesama tkw yg tersingkir karena ulah majikannya, maka mereka memberanikan diri untuk berunjuk rasa menuntut hak Juminem atas anaknya dengan topik "Jangan Culik Anakku ", bukannya di dengar malah mereka ditangkap dan di pulangkan ke Indonesia.

Comments
Post a Comment