Wanita Dalam Paralon
Hampir sewindu Susi bekerja di perusahaan meuble milik seorang pengusaha keturunan arab di Yogyakarta,namun karena perkembangan usaha, maka akhir - akhir ini Susi sering berpindah - pindah sesuai perkembangan usaha meuble tersebut. Susi sebetulnya masih pingin melanjutkan kuliah setamat sma, tapi karena keadaan ekonomi orangtua tidak mendukung, maka dia berusaha mencari pekerjaan untuk membantu ekonomi keluarga. Kalau tidak ada yg sangat penting di desanya Susi jarang pulang, paling datang ke rumah tiga bulan sekali, walaupun kota yogya tidak begitu jauh dari kota semarang, namun dengan alasan sibuk, Susi jarang pulang.
Lebaran tahun kemarin Susi datang bersama seorang pria muda yg sudah mapan, Susi mengatakan kalau pria itu adalah calon suaminya, mereka sudah nikah siri di Yogyakarta, tinggal nikah di KUA saja yg belum, karena suaminya bukan muslim, sehingga dia mau nikah dengan Susi secara siri aja, bukan di KUA katanya. Setelah itu Susi tidak pernah muncul lagi di desanya, hingga beberapa kali lebaran berikutnya.
Namun tiba - tiba di Surabaya ada berita yg menghebohkan masyarakat setempat, dengan adanya penemuan mayat seorang wanita muda sedang berbadan dua, didalam rumah seorang pengusaha yg dimasukkan dalam paralon besar. Tanpa sengaja ditemukan oleh seorang pekerja atau tukang yg dimintai tolong oleh pemilik rumah untuk memperbaiki talang gudang yg bocor.
Saat mau memindahkan paralon ke tempat lain, tukang itu mencium bau yg nggak enak, dia mencari sumber bau tak sedap itu, ternyata berasal dari paralon besar yg ditaruh di lantai gudang tsb. Karena penasaran akan isi paralonnya dan juga bobotnya yg sangat berat, maka tukang tadi mengajak ketua Rt setempat untuk membuka paralon tsb, karena takut ada sesuatu didalamnya.
Pak Rt tidak mau gegabah, maka dia melaporkan penemuan aneh itu pada polisi, dan segera polisi datang ke rumah Dody untuk membuka paralon tsb. Astaga !....ternyata ada mayat di dalamnya, sudah membusuk, dan mulai hancur.Istri Dody yg saat itu ada di rumah langsung di amankan polisi, demikian juga Dody yg sudah pergi kerja, ditangkap di kantornya, dari hasil interogasi polisi, dia mengakui semua perbuatannya.
Saat mau memindahkan paralon ke tempat lain, tukang itu mencium bau yg nggak enak, dia mencari sumber bau tak sedap itu, ternyata berasal dari paralon besar yg ditaruh di lantai gudang tsb. Karena penasaran akan isi paralonnya dan juga bobotnya yg sangat berat, maka tukang tadi mengajak ketua Rt setempat untuk membuka paralon tsb, karena takut ada sesuatu didalamnya.
Pak Rt tidak mau gegabah, maka dia melaporkan penemuan aneh itu pada polisi, dan segera polisi datang ke rumah Dody untuk membuka paralon tsb. Astaga !....ternyata ada mayat di dalamnya, sudah membusuk, dan mulai hancur.Istri Dody yg saat itu ada di rumah langsung di amankan polisi, demikian juga Dody yg sudah pergi kerja, ditangkap di kantornya, dari hasil interogasi polisi, dia mengakui semua perbuatannya.
Semua ciri.ciri mayat tsb mirip dengan pribadi Susi, lalu polisi mengajak orangtua Susi ke RS Bhayangkara Surabaya untuk mengenali jenazah yg mirip Susi sekaligus mengambil DNAnya, untuk dicocokkan dengan DNA mayat tsb. Setelah ditunggu sekitar dua mingguan lebih, ternyata mayat tersebut adalah benar Susi anak pak Dirman.
Dirman bagai disambar petir di siang bolong, walaupun sudah banyak kemiripan dengan Susi, dia masih menyimpan harapan kalau Susi masih hidup dan bekerja sebagai kasir di perusahaan meuble di Yogyakarta. Dirman masih ingat saat terakhir kali anaknya pulang ke rumah sendirian saja, tanpa suaminya, badannya lebam dan biru - biru, sebagai orangtua Dirman merasa was - was, dan dengan rasa iba dia tanya Susi, kenapa badannya lebam,...Susi hanya menunduk dengan jawaban nyaris tidak terdengar...." kepleset". katanya.
Dirman merasa ada sesuatu yg disembunyikan anaknya dari dirinya, dan semakin tidak berdaya saat suami Susi segera datang menjemput anaknya, Susi tidak berani menolak ajakan suaminya untuk pulang malam itu juga ke Surabaya. Semalam suntuk Dirman tidak bisa tidur, dia ingin menyusul anaknya ke Surabaya, tapi tau harus kemana, karena selama ini Susi tidak pernah mau meninggalkan alamat tempat kerjanya, dengan alasan sering pindah tempat tugas. Susi hanya meninggalkan no. hp yg biasa dipakai untuk menghubungi keluarganya di desa, tapi sejak malam itu hp Susi tidak pernah bisa dihubungi lagi.
Susi memang tidak ingin merepotkan orangtuanya, dia mau menyelesaikan semua persoalan yg sedang dialaminya sendirian. Dia mau minta pertanggung jawaban laki - laki yg menghamilinya, maka dia berani menantang maut,dengan tinggal di rumah Dody, pria yg sudah beristri dengan punya anak tiga orang di ruko yg sempit. Saat itu dia sedang hamil tujuh bulan, hasil hubungan terlarang yg mereka lakukan di Yogyakarta. Susi tidak tau kalau Dody sudah beristri, saat pertama berkenalan ditempat Susi bekerja di perusahaan meuble, Dody sebagai pemasok barang - barang kebutuhan perusahaan, sedangkan Susi adalah seorang kasir yg cantik dan menawan, membuat Dody kesemsem.
Dody merayu Susi dengan janji - janji palsunya, dia rela mengeluarkan uang untuk memindahkan Susi dari rumah kontrakan sederhana ke paviliun nan asri di sekitar alun - alun selatan, dekat kantor Susi. Banyak yg Dody lakukan untuk mendapatkan cinta Susi, namun setelah Dody mendapat kesucian Suci, semua jadi berubah, apalagi Susi menuntut pertanggung jawaban Dody. Dody memang sangat sayang sama Susi, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan istri dan anaknya di Surabaya.
Akhirnya Dody mengakui semua apa adanya pada Susi, Dody tidak mungkin menikahi Susi secara sah, tapi juga tidak mau berpisah, Dody membawa Susi ke Surabaya, dan dicarikan rumah kontrakan dekat tempat tinggal keluarga Dody. Belum genap sebulan Dody menyimpan Susi di Surabaya, usahanya merugi, dan ekonomi keluarga Dody ikut kelimpungan, maka Susi terpaksa Dody bawa masuk ke rumah Dody, yg disuruh Dody menyamar sebagai pembantu rumah tangga, agar istri dan anak2nya tidak curiga.
Sepandai - pandainya orang menyimpan bangkai, pastilah orang akan mencium baunya, demikian juga Dody dan Susi, semua anggota keluarga dan tetangga akhirnya tau kalau Susi bukan sekedar pembantu rumah tangga, tapi istri simpanan Dody.
Sejak saat itu Dody menjadi temperamental, dia ringan tangan sama semua anggota keluarga, termasuk Susi sendiri. Hingga suatu malam ketika Susi minta dinikahi secara sah sebelum anak yg dikandungnya lahir, terjadi pertengkaran hebat, Dody memukul Susi sampai terkapar, brlumuran darah. Selama ini kalau Dody marah, tak seorang anggota keluargapun yg berani mendekat, kecuali ingin jadi sasaran kemarahan berikutnya. Demikian juga malam itu, saat Dody marah sama Susi, semua anggota keluarga lainnya masuk kamar, berusaha menghindar dari amukan Dody.
Susi ternyata sudah meninggal, Dody bingung mau dikemanakan Susi, dia panggil istrinya untuk memandikan dan membersihkan ceceran darah Susi. Setelah itu Susi ditaruh diranjang selama semalam, Dody tiduran disampingnya sambil mencari ide untuk menghilangkan jejak, maka sebelum fajar menyingsing ide itupun datang, Dody membeli paralon yg biasa untuk saluran air dari toko bangunan, jenazah Susi dimasukkan kedalam, lalu di cor, biar tidak menguap. Paralon itu dia simpan di gudang, kelak pada suatu saat nanti akan dibawa pulang ke kampung halamannya untuk dimakamkan.
Dirman bagai disambar petir di siang bolong, walaupun sudah banyak kemiripan dengan Susi, dia masih menyimpan harapan kalau Susi masih hidup dan bekerja sebagai kasir di perusahaan meuble di Yogyakarta. Dirman masih ingat saat terakhir kali anaknya pulang ke rumah sendirian saja, tanpa suaminya, badannya lebam dan biru - biru, sebagai orangtua Dirman merasa was - was, dan dengan rasa iba dia tanya Susi, kenapa badannya lebam,...Susi hanya menunduk dengan jawaban nyaris tidak terdengar...." kepleset". katanya.
Dirman merasa ada sesuatu yg disembunyikan anaknya dari dirinya, dan semakin tidak berdaya saat suami Susi segera datang menjemput anaknya, Susi tidak berani menolak ajakan suaminya untuk pulang malam itu juga ke Surabaya. Semalam suntuk Dirman tidak bisa tidur, dia ingin menyusul anaknya ke Surabaya, tapi tau harus kemana, karena selama ini Susi tidak pernah mau meninggalkan alamat tempat kerjanya, dengan alasan sering pindah tempat tugas. Susi hanya meninggalkan no. hp yg biasa dipakai untuk menghubungi keluarganya di desa, tapi sejak malam itu hp Susi tidak pernah bisa dihubungi lagi.
Susi memang tidak ingin merepotkan orangtuanya, dia mau menyelesaikan semua persoalan yg sedang dialaminya sendirian. Dia mau minta pertanggung jawaban laki - laki yg menghamilinya, maka dia berani menantang maut,dengan tinggal di rumah Dody, pria yg sudah beristri dengan punya anak tiga orang di ruko yg sempit. Saat itu dia sedang hamil tujuh bulan, hasil hubungan terlarang yg mereka lakukan di Yogyakarta. Susi tidak tau kalau Dody sudah beristri, saat pertama berkenalan ditempat Susi bekerja di perusahaan meuble, Dody sebagai pemasok barang - barang kebutuhan perusahaan, sedangkan Susi adalah seorang kasir yg cantik dan menawan, membuat Dody kesemsem.
Dody merayu Susi dengan janji - janji palsunya, dia rela mengeluarkan uang untuk memindahkan Susi dari rumah kontrakan sederhana ke paviliun nan asri di sekitar alun - alun selatan, dekat kantor Susi. Banyak yg Dody lakukan untuk mendapatkan cinta Susi, namun setelah Dody mendapat kesucian Suci, semua jadi berubah, apalagi Susi menuntut pertanggung jawaban Dody. Dody memang sangat sayang sama Susi, tapi dia juga tidak mungkin meninggalkan istri dan anaknya di Surabaya.
Akhirnya Dody mengakui semua apa adanya pada Susi, Dody tidak mungkin menikahi Susi secara sah, tapi juga tidak mau berpisah, Dody membawa Susi ke Surabaya, dan dicarikan rumah kontrakan dekat tempat tinggal keluarga Dody. Belum genap sebulan Dody menyimpan Susi di Surabaya, usahanya merugi, dan ekonomi keluarga Dody ikut kelimpungan, maka Susi terpaksa Dody bawa masuk ke rumah Dody, yg disuruh Dody menyamar sebagai pembantu rumah tangga, agar istri dan anak2nya tidak curiga.
Sepandai - pandainya orang menyimpan bangkai, pastilah orang akan mencium baunya, demikian juga Dody dan Susi, semua anggota keluarga dan tetangga akhirnya tau kalau Susi bukan sekedar pembantu rumah tangga, tapi istri simpanan Dody.
Sejak saat itu Dody menjadi temperamental, dia ringan tangan sama semua anggota keluarga, termasuk Susi sendiri. Hingga suatu malam ketika Susi minta dinikahi secara sah sebelum anak yg dikandungnya lahir, terjadi pertengkaran hebat, Dody memukul Susi sampai terkapar, brlumuran darah. Selama ini kalau Dody marah, tak seorang anggota keluargapun yg berani mendekat, kecuali ingin jadi sasaran kemarahan berikutnya. Demikian juga malam itu, saat Dody marah sama Susi, semua anggota keluarga lainnya masuk kamar, berusaha menghindar dari amukan Dody.
Susi ternyata sudah meninggal, Dody bingung mau dikemanakan Susi, dia panggil istrinya untuk memandikan dan membersihkan ceceran darah Susi. Setelah itu Susi ditaruh diranjang selama semalam, Dody tiduran disampingnya sambil mencari ide untuk menghilangkan jejak, maka sebelum fajar menyingsing ide itupun datang, Dody membeli paralon yg biasa untuk saluran air dari toko bangunan, jenazah Susi dimasukkan kedalam, lalu di cor, biar tidak menguap. Paralon itu dia simpan di gudang, kelak pada suatu saat nanti akan dibawa pulang ke kampung halamannya untuk dimakamkan.

Comments
Post a Comment