Tetesan Air Mata Terakhir Anakku

Untuk mengakui suatu kesalahan secara jujur dan ikhlas sangat sulit bagi seorang manusia yg hanya mengandalkan otot, bukan otak. Apalagi perbuatan itu merupakan hasil dari pelanggaran kecil, yg di lakukan oleh orang kecil, aparat langsung menganiaya anak tsb sampai jatuh dan  muntah darah. Dimanakah rasa kemanusiaan polisi..?, bukankah mereka yg selalu mengumbar pernyataan pengayom...? pelindung...? namun kejadian demi kejadian akhir - akhir ini rasanya semakin menjauhkan kita dengan aparat. Kalau memang tidak sehat secara fisik maupun mental, kenapa harus diterima jadi polisi...? masih banyak warga negara Indonesia yg sehat rohani dan jasmani, siap mengabdi bagi bangsa dan negara ini. Tapi inilah kenyataan hidup di negara kita, masih kental dengan kkn, walaupun sudah berganti pimpinan beberapa kali, tapi kkn tetap membudaya entah sampai kapan.
     Rudi memang tidak akan kembali lagi walaupun kita berdebat hingga akhir zaman, tapi bagi ibundanya, Rudi tidak akan mati sia-sia, maka hukum harus tetap berjalan, biar tidak ada lagi korban seperti Rudi, anaknya yg harus mati di usia muda karena arogansi oknum polisi di jalan raya. Yang paling menyakitkan hati ibunda, sampai saat ini yg bersangkutan tidak pernah mengakui kesalahannya, apalagi minta maaf pada Rudi, tapi biarlah Tuhan yg memberikan ganjaran padanya sesuai perbuatannya.
     Selama tiga hari sebelum peristiwa itu ada yg aneh dengan Rudi, dia selalu menjauh dari bundanya, entah kenapa dia selalu menghindar bila pas berpapasan. Begitu juga saat terakhir bertemu di depan kamarnya, sebelum kejadian hari naas tersebut, bundanya menyapa Rudi sekedar menanyakan keadaannya, tapi Rudi langsung masuk ke kamar, tidak ada jawaban. Karena sudah capek selama tugas luar kota, bunda ingin segera istirahat, hingga saat Rudi pergi ke luar malam itu, bunda tidak tau.
     Rudi anak yg baik, suka menabung uang sakunya demi meringankan beban orangtua, dia rajin belajar dan membantu orangtuanya  mengerjakan tugas yg seharusnya jadi tanggung jawab bunda. Rudi juga sangat senang bergaul, maka banyak temannya yg datang ke rumah untuk sekedar bermain. Dia ingin membahagiakan orangtuanya kelak, bila sudah lulus sma akan kuliah sambil bekerja untuk cari tambahan biaya kuliah katanya.
     Begitulah pada hari itu Rudi berangkat dari rumah tanpa pamit, karena  bundanya masih tidur di kamar. Mereka seperti biasa menjemput teman wanita dulu, baru pergi jalan - jalan ke  tempat yg sudah mereka sepakati. Tapi ada yg aneh dengan Rudi malam sebelum mereka berangkat kencan, Rudi menitipkan hp dan barangnya yg lain pada temannya sambil berkata : " Aku pergi tidak akan membawa apa - apa".
     Setelah puas jalan - jalan mereka pulang beriringan tiga pasang, karena teman perempuan yg ikut Rudi rumahnya lebih dulu dilewati, maka Rudi mengantarkannya pulang lebih dulu, baru bergabung dengan rombongan  tanpa boncengan.
     Karena malam itu adalah malam hari raya Idhul Adha, maka jalan yg dulunya dua arah, jadi satu arah karena dipakai untuk tagbiran berkeliling kota oleh masyarakat. Banyak polisi yg ditugaskan mengamankan acara malam itu, karena rumah Rudi dan teman - teman ada di sekitar jalan yg ditutup itu, maka dengan terpaksa mereka melawan arah, saat itulah polisi bertindak kasar pada Rudi yg lagi melintas. Kepalanya dipukul pakai helm, mungkin karena kaget, Rudi langsung terjatuh dari motor, membentur aspal hingga hidungnya patah, teman temannya mau menolong tapi sama polisi di hardik, hingga Rudi terkapar di kelilingi polisi.
     Dengan tanpa beban polisi mengantar Rudi ke rumah sakit umum setempat, lalu pergi meninggalkannya begitu saja, saat itu juga teman Rudi menghubungi bundanya Rudi, yg langsung datang ke rumah sakit dan melihat kondisi anaknya yg memprihatinkan. Yang paling menyakitkan hati bunda adalah pernyataan polisi di koran, bahwa Rudi korban kecelakaan tunggal. Bunda marah, bunda hanya bisa memohon keadilan pada Yang Kuasa, agar mereka yg menganiaya anaknya dapat hukuman yg setimpal.
     Rudi muntah darah terus... hingga bunda memindahkan Rudi ke  rumah sakit yg lebih baik. Sesampainya di rumah sakit rujukan, Rudi tidak sadarkan diri lagi hingga akhir hayatnya. Selama perawatan bundanya tidak pernah berhenti berdoa di telinga Rudi mohon kesembuhan putranya, hingga pada malam ke sembilan, mata Rudi sudah terbalik, yg kelihatan hanya putihnya saja, bundanya sadar bahwa Rudi sudah sangat menderita, ingin pergi meninggalkan semuanya.
     Bunda menata hati dan pikirannya, dia tidak mau anaknya menderita lebih lama, maka dia berbisik di telinga Rudi, " Bunda ikhlas nak, dan tidak akan dendam sama siapapun, pergilah dengan damai, Tuhan lebih sayang padamu melebihi segala sesuatu". Setelah itu air mata Rudi menetes membasahi pipinya, lalu semua denyutnya berhenti pertanda berakhirnya kehidupan Rudi.....Bunda histerisss,.....menjerit, .......sekuat - kuatnya.....hancur,....luluh,.....seluruh jiwanya......bersama perginya Rudi. Bunda pingsan setiap melihat Rudi terbujur kaku, tidak sanggup menerima kenyataan itu.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri