Janji Abadi bagi Sahabat Sejati



      Sebenarnya saya tidak ingin mengungkapkan hal ini pada orang lain, tapi sebagai manusia yang punya keterbatasan, maka dengan hati tersayat saya buka semua derita dan siksa bathin yg selama ini tersimpan rapi dalam balutan daging dan darahku.
     Saya seorang suami dari 4 istri dan ayah dari tiga anak laki laki dan seorang putri, dalam hidup berumah tangga kami sangat bahagia dan harmonis, karena saya bisa memberi pengertian pada ke empat istri saya. Walaupun hidup hanya seadanya saja tapi rasanya selama ini semua berjalan dengan baik, seperti air mengalir.
     Sebetulnya saya bukan laki laki yang suka kawin atau yang suka selingkuh, tapi rasa iba dan setia kawanlah yang mengantar saya seperti ini. Semasa saya kuliah dulu, saya punya tiga sahabat yang sudah seperti keluarga dan punya grup yang kami beri nama SEPADAN, singkatan nama anggotanya, al : Septiyan, Pandu, Daniel dan saya sendiri Antonius.
     Kami berjanji sehidup sepenanggungan dalam suka maupun duka, dan bila ada yg mendahului menghadap yg Maha Kuasa, maka teman yg lain akan bertanggung jawab dengan semua perjalanan hidup keluarga kami kelak selama hidup di perantauan. Dan sejak itu kami berempat selalu bersama dalam menghadapi permasalahan hidup di kampus, yg terkenal dengan nama " empat serangkai".
      Kami boleh bangga dengan prestasi akademik, tidak ada yg bisa menandingi kepiawian Daniel dalam berdebat, dia sangat jago dalam hal itu, maka tidak heran kalau dalam usianya yg masih relatif muda sudah dipercaya jadi Ka.Humas di Hotel berbintang lima di Jakarta. Sedangkan Septi adalah jago matematika dan fisika, dia bekerja di Badan atom nasional cabang Yogyakarta, sebagai tenaga ahli fisika dan Pandu seperti namanya menjadi dosen sekaligus pemandu acara penelitian di Suraba ya. Hanya saya yg jadi pengusaha karena mengikuti keinginan orangtua untuk melanjutkan bisnis keluarga.
     Setelah lulus dan bekerja persahabatan kami semakin erat bahkan saat cari pasanganpun kami se lalu jalan bersama, saling bertukar pendapat, dalam memilih pasangan. Karena kami sudah dekat dengan pasangan teman satu sama lain, otomatis mereka juga jadi sahabat. Tapi persahabatan kami harus berakhir dengan tragis, karena musibah yg datang secara mendadak, manusia hanya bisa meren canakan, tapi Tuhan jualah yang menentukan perjalanan kehidupan kami.
     Saya tidak pernah mengira kalau persahabatan kami akan meninggalkan beban yang sangat berat bagi saya, karena kejadiannya begitu cepat dan sangat tragis. Setelah kami menikah semua dengan pilihan kami masing masing, kami merencanakan reuni kecil - kecilan di Bunaken yang sangat terkenal dengan wisata baharinya, kami sangat rindu mengulangi masa indah saat masih kuliah dulu, sehingga rencana kami susun dengan sebaik mungkin, jangan sampai ada yang terlewatkan.
     Kami berangkat dari tempat tinggal kami masing masing dengan penerbangan pertama, dan sampai di tujuan masih pagi sekitar jam sepuluhan, setelah istirahat sambil minum sebentar, kami titipkan semua barang dan perlengkapan pada supir hotel untuk  di bawa ke hotel. Kami bergegas ke pantai untuk mencari kapal boat sewaan, dan kapal boatpun melaju ke tengah samudra nan luas terbawa angin darat. Pemandangan bahari sangat menakjubkan, kami menyelam bergantian, melihat keindahan taman bawah laut dan ikan warna warni." Indah banget".
      Sedang asyik asyiknya menyelam tiba tiba cuaca berubah mendung, angin bertiup kencang per tanda mau ada badai, teman yang masih menyelam kami panggil segera naik ke kapal, hanya dalam hitungan menit, badai memporak-porandakan kapal yang kami tumpangi, terbalik, semua jadi histe ris, petir menyambar- nyambar dengan suara gemuruh ombak memecah kegelapan. Semua berusaha saling berpegangan tangan, yang istri ditaruh di punggung agar tidak tenggelam, setelah itu saya tidak ingat apa apa lagi.
     Ketika saya buka mata pertama kali saya melihat istri dan anak saya bersandar pada tembok putih ternyata saya masih hidup dan berada  di rumah sakit,  penuh balutan perban dan dua selang infus sekaligus terpasang di tangan dan kaki. Kepala rasanya pusing banget, mata bengkak hampir tertutup tidak bisa melihat dengan jelas, badan rasanya lemas dan sakit meliputi sekujur tubuhku.
     Setelah agak mendingan saya boleh pulang,  ditemani keluarga dan sanak saudara, semua tetangga dan handai taulan datang menjenguk ke rumah mengucapkan turut prihatin akan musibah yg menim pa rombongan kami. Mereka tidak menyangka saya masih hidup, konon kabar yg mereka dengar semua penumpang tewas terseret ombak besar ke tengah laut.
     Dan saya baru tau kalau ternyata semua teman saya sudah dibawa pulang ke rumah masing- masing untuk segera dimakamkan, karena hampir separoh rombongan tewas tenggelam dan tidak tertolong. Aku sedih membayangkan peristiwa tragis itu, seperti mimpi di siang bolong kami berpegangan tangan satu sama lain, untuk mempertahankan diri dari gelombang laut yg menghanyutkan, lalu  tergulung ombak demi menyelamatkan istri tercinta.
     Sampai saat ini saya tidak habis pikir tragedi itu bisa menimpa keluarga kami yg sudah bersahabat selama bertahun- tahun. Karena tanggung jawab saya sebagai sahabatlah, yg memaksa saya harus mengambil sikap untuk menikahi semua istri sahabat saya, agar saya bisa masuk dalam urusan pribadi mereka  tanpa sekat norma agama dan norma susila.
     Tapi sebelum niat ini saya sampaikan pada ketiga janda mendiang sahabat saya, saya sudah lebih dulu berembuk dengan istri saya dari hati ke hati, dan dia sangat mendukung niat saya.Walaupun saya sudah menjadi suami sah mereka, sebenarnya saya tidak ingin  menyentuh mereka sebagaimana la zimnya suami istri, kecuali mereka yg minta.
Saya hanya ingin menepati janji kami saat itu untuk melindungi anak istri sahabatku,  yg masih butuh kasih sayang dan sekaligus menopang kehidupan mereka selanjutnya.
     Makanya istri saya tidak pernah ribut atau berselisih paham walaupun saya menikahi seluruh jan da mendiang  sahabat  saya. Orang lain banyak yg  menganggap saya memanfatkan keadaan darurat itu untuk kepentingan pribadi, tapi sebelum saya mengambil keputusan menikahi mereka, saya dan istri sudah mempertimbangkan dengan seksama seluruh akibat yg akan kami peroleh dari keputusan ini.
     Hal sekecil apapun akan selalu dikomunikasikan agar tidak terjadi salah mengerti, walaupun begitu saya selalu berpesan pada ketiga janda sahabat saya, kalau ingin melepaskan ikatan perkawinan ini, jangan sungkan karena pada dasarnya saya hanya ingin melindungi saja selama dibutuhkan. Saya tetap memberikan kebebasan pada mereka untuk menentukan masa depannya kelak bilamana dan kapan saja mereka mau.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri