Nyawa Sambungan Seorang Paranormal

Kedatangan kami di desa Setangkai Daun adalah untuk berobat, karena disana ada paranormal yg konon katanya bisa mengobati semua jenis penyakit. Banyak yg sudah di tolak dari Rumah Sakit karena sudah tidak ada harapan sembuh, ternyata ketika dibawa kesana bisa sembuh. Dari mulut ke mulut para normal itu terkenal karena tangan dinginnya mengobati pasien, bahkan kanker yg stadium empatpun masih bisa sembuh asal belumpernah kena pisau operasi. Omku memang sudah empat tahun ini menderita stroke, beliau hanya bisa duduk di kursi roda, dan bicara sepotong - sepo tong tok, itupun sudah sangat lelah. Mendengar kabar gembira itu, tanteku sangat antusias mende ngarkan radio dan mengikuti perkembangannya beritanya di tv, maupun koran .
     Begitu sampai di desa setangkai daun, orang sudah banyak mengantri, mungkin lebih dari seratusan orang, maklumlah karena kita orang jauh, perjalanannya saja hampir tiga jam, sehingga saat tiba disana sudah jam sepuluh. Omku dapat nomor antrian seratus limabelas, diperkirakan dapat giliran sekitar jam sepuluh malam, kalau semuanya berjalan lancar.
     Karena antriannya masih panjang, kami terpaksa cari tempat istirahat semalam, agar om bisa rebahan dan istirahat dulu. Ternyata di sekitar itu sudah banyak yg menyediakan pondok'an sederhana bagi orang yg sedang berobat atau mengantar keluarganya ke sana dan bentuknya semi paviliun per malam di pasang tarif antara seratus ribu sampai dua ratus ribu, tergantung besar/kecilnya kamar yg kita sewa.
     Kebetulan yg punya paviliun adalah mas kandung paranormal tsb, maka dengan senang hati beliau bersedia memberikan informasi tentang tentang sang adik. Konon sang adik sejak lahir sudah mem punyai keajaiban karena dilahirkan kembar dengan seekor buaya, buaya itu sampai sekarang masih ada di sungai dekat rumah mereka, dan selalu datang ke rumah adiknya kalau ada peristiwa penting ataupun musibah yg menimpa keluarga besar mereka.
     Suatu saat sang paranormal yg bernama Agung Sawijiniboyo =  "Agung bagian dari buaya", pergi ke kota bersama ayahnya mau membeli perlengkapan sekolah, karena Agung sudah cukup umur untuk masuk sekolah. Perjalanan pulang mereka dicegat serombongan orang yg tidak di kenal, tanpa basa basi, gerombolan itu langsung menculik Agung dari tangan ayahnya, sang ayah tidak mampu menghadapi lawan, dan dengan kondisi sangat memprihatinkan dia pulang ke rumah tanpa Agung.
     Setelah sampai di rumah ayahnya kaget bercampur gembira melihat Agung sudah berada di rumah di antar  seekor buaya besar  tanpa kurang suatu apapun. Ternyata sang penculik ketakutan saat di per jalanan mereka dihadang seekor buaya besar dan ganas yaitu kembaran sang adik. Sejak saat itu semu a orang di kampung ini jadi percaya kalau Agung kecil bukan orang biasa, tapi titisan dewa.
     Karena sudah mendapat panggilan saya harus menemani Om untuk berobat sekalian kenalan lebih dekat dengan pak Agung. Orangnya ramah, badannya sedang, berkulit sawo matang, yg lain daripada yg lain adalah sorot matanya yg tajam, seakan ingin mengetahui isi hati kita yg paling dalam. Saya menceritakan awal mulanya omku kena stroke ini, dan beliau menyimak seluruhnya. Beliau mulai mengobati dengan ramuan yg sudah disediakan disana, hampir semua badan omku sudah kaku ka tanya, hingga butuh waktu lama untuk kesembuhannya.
     Untuk kesembuhan Omku apapun akan tante lakukan, dan kami berjanji akan kembali minggu depannya. Ada ramuan dari jenis tumbuhan dari hutan yg harus diminumkan dan dipijak ke seluruh tubuh sehari dua kali. Semua kebutuhan kami disana tante pesan kepada kakak pak Agung, baik makanan maupun peralatan mandi.
     Karena sudah merasa nyambung, pak Karim yg punya paviliun datang kembali mengajak saya bertamu ke rumahnya sambil nonton tv, banyak hal yg kami obrolkan, bagaimana adiknya bisa mengobati orang sakit, semua karena kebesaran Tuhan. Ketika baru lulus STM, adiknya panas tinggi dan hampir empat puluh hari lamanya, Agung tidak sadar di rumah sakit, ayah ibunya sudah pasrah bila memang adiknya mau diambil Yang Kuasa, ibunya tidak sanggup melihat keadaan Agung di penuhi dengan infus dan kabel di hampir seluruh tubuhnya.
     Dalam keadaan lelah dan pasrah itulah ibunya melihat sinar terang menyinari wajah Agung di rumah sakit, dan mujizat itu nyata, Agung terbangun dari tidur panjangnya, ibunya tidak yakin kalau anaknya bisa berbicara memanggil dirinya. Ibunya memeluk Agung yg juga bigung kenapa ada di rumah sakit itu, dengan berlinang air mata ibunya menceritakan peristiwa yg dialami Agung selama empat puluh hari ini. Agung baru sadar kalau apa yg di alaminya hanya mimpi, dalam mimpinya dia dibawa seorang pangeran yg berwajah buaya, dan mengenalkan berbagai jenis pohon yg daun dan akarnya bisa dijadikan obat untuk menyehatkan warga kampungnya kalau sakit.
     Sejak saat itu juga Agung mendapat ilham untuk membuat ramuan obat dari daun daunan dan akar tanaman yg ada di hutan dekat tempat tinggalnya untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Biasanya sebelum orang yg sakit datang minta bantuannya, Agung sudah mendapat firasat, sehingga dia bisa mempersiapkan ramuan apa yg bisa mengobati penyakit yg bersangkutan. Dengan biaya yg sangat murah, banyak orang yg sudah disembuhkan oleh ramuan pak Agung.

    

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri