Jeritan seekor kucing betina diawal senja
Sebagai warga yg baik kalau ada tetangga yg baru kita berusaha menyapa dan bila membutuhkan bantuan kita juga terbuka untuk membantu. Rumah di ujung gang masuk ke rumah saya memang sudah agak lama kosong di tinggal penghuninya, pindah tugas ke Sulawesi. Tadi saat saya lewat disana sudah ada yg menempati rumah tersebut, kebetulan mereka pas ngangkut barang barang, saya sapa dengan baik baik, tapi tidak ada jawaban, mungkin karena lagi sibuk kurang perhatian sehingga saya berlalu saja. Sejenak saya beres beres belanjaan yg baru saya beli, ada orang ngetuk pintu, ternyata ada tamu seorang wanita muda belia dengan senyum yg manis, mengucapkan salam perkenalan sebagai orang baru di ujung gang. Saya ajak dia masuk dan ngobrol sebentar, sambil menyedu teh hangat, wanita itu memperkenalkan diri sebagai Indri Seyboncel, bekerja sebagai penyanyi night club milik orang terkaya di kota ini. Dia tinggal dengan seorang pembantu dan kucing kesayangannya yg diberi nama b o n c e l. Setelah berselang beberapa menit dia pamit ingin melanjutkan beres beres rumah dan barang barangnya, saya tawarin bantuan, dia menolak dengan halus.
Beberapa malam ini orang mulai berguncing tentang tetangga baru yg sepanjang hari hampir tidak pernah kelihatan keluar rumah, hanya kehadiran seekor kucing putih belang yg sering mengganggu tetangga kiri kanan cari sisa makanan di tempat sampah, dan hampir setiap malam ada suara kucing mengerang seperti suara bayi menangis. "S E R A M" itulah gambaran setiap orang yg lewat disana pada malam hari. Lampu di dalam rumah kelihatan remang remang menambah kesan angker.
Sebagai ketua RT suami saya harus tanggap dengan pengaduan / keluhan warga masyarakat, maka tadi malam suami saya mengajak beberapa warga sebagai pengurus RT, untuk berkunjung ke rumah tersebut, melihat keadaan mereka, sekalian bersilaturahmi .
Setelah menunggu sekitar lima belas menit pintu di buka dengan penuh kehati- hatian oleh seorang nenek tua keriput, memandang dengan curiga pada rombongan suami yang datang bertamu, nenek itu mempersilakan masuk dan segera berlalu ke belakang memanggil "boncel...boncelll...??" dan yg dipanggil segera datang, ternyata seekor kucing dan langsung melompat duduk di pangkuansang nenek.
Suami saya mulai membuka pembicaraan tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka kesana, disamping bersilahturahmi, juga untuk mengenal lebih dekat keadaan tetangga baru ini, dengan demikian warga tidak menduga-duga atau mereka-reka saja tapi tau siapa dan apa pekerjaan tetangga barunya. Lalu sang nenek memperkenalkan diri sebagai pembantu disana dan Indri adalah majikan nya yg biasa berangkatkerja malam hari dan baru pulang pagi hari, karena pekerjaannya sebagai penghibur/ penyanyi night club.
Setelah bercerita panjang lebar tentang asal usul mereka dan kegiatannya, suami saya mohon pamit karena keterangan yg diberikan sama dengan yg dulu pernah diceritakan Indri kepada saya.
Tapi namanya orang banyak bisa aja mereka tidak percaya dengan omongan si nenek tadi, karena salah satu peserta merasa merinding menatap mata sang nenek saat bersalaman tadi malam. Dia merasa ada yg janggal di rumah itu, dan ingin menyelidiki keadaan yg sebenarnya.
Jadilah dia bersama teman temannya memulai penyelidikan di sana yg diawali dari suara kucing yg mengerang seperti suara anak kecil yg teraniaya.
Malam ini mereka sengaja menunggu suara kucing itu dan menjelang malam sekitar jam sembilan suara tangis kucing itu membuat siapa saja yg mendengarnya jadi merinding, pilu terasa dan rombongan warga menyelinap ingin tau siapa yg menyiksa kucing tersebut. Dari celah lobang angin salah seorang warga melihat seorang wanita cantik mengerang kesakitan di atas tempat tidur, dan tidak jauh dari sana ada seorang nenek duduk bersila dengan wajah menengadah sambil komat kamit seperti orang kesurupan .
Sejak malam itu, warga memutuskan untuk mengunjungi rumah di ujung gang itu dan kali ini ibu ibu yg di utus. Sebagai perwakilan dari ibu-ibu, kami berangkat berlima malam ini untuk berkunjung dan kami sengaja datang sekitar jam delapan disana, sang nenek sedang berkemas- kemas hendak melakukan sesuatu, tapi kedatangan kami menghentikan langkahnya, dan saya menyadari bahwa kedatangan kami sudah mengganggu yg punya rumah,tanpa basa-basi saya mohon maaf sudah mengganggu, dan membertahukan maksud dan tujuan kedatangankami kesana.
Setelah saya katakan maksud dan tujuan kedatangan kami disana sang nenek terperanjat, mungkin tidak menyangka kalau warga sudah tau apa yg terjadi disana. Sang nenek menangis dan berusaha tegar sambil menghela nafas panjang, bercerita tentang keadaan Indri yg sesungguhnya.
Indri adalah gadis cantik, lincah dan ceria, tidak tau kenapa sejak orang tuanya meninggal secara aneh dan mengenaskan di kamar tidurnya dua bulan yg lalu, Indri jadi sering bangun tengah malam dengan menjerit histeris karena merasakan tusukan jarum penthul di sekujur tubuhnya. Sudah dibawa ke dokter dan berbagai pengobatan alternatif, bahkan dokter paling terkemuka di kota ini namun sampai sekarang belum menemukan jenis penyakit apa sebenarnya di derita Indri.
Mungkin Indri adalah korban kebiadaban orang yg menjadi saingan bisnis orangtuanya, setelah orangtuanya meninggal dengan sangat mengenaskan, saingannya juga ingin menghabisi nyawa Indri anak semata wayangnya, Indri terkena T e n u n g jarum penthul.Oleh sebab itu sang nenek yg sudah tua renta itu harus memberi obat setiap malam dengan bantuan mantra penawar pathi yg diwariskan maha gurunya. Karena tenaga sang nenek tidak seperti dulu lagi, maka butuh waktu lebih lama untuk mengobati dan memulihkan kesehatan Indri. Itulah sebabnya sang nenek memilih tempat ini, selain nyaman untuk ditempati juga jauh dari jangkauan penenung, sang nenek mohon doa dan ketulusan warga menerima mereka disini. .
Sejak saat itu hampir semua warga ikut bersimpati dan berusaha membantu sang nenek dengan ikut menjaga kelancaran pengobatan Indri, dan bila ada orang yg mencurigakan, warga akan mengawasi gerak- geriknya.
Beberapa malam ini orang mulai berguncing tentang tetangga baru yg sepanjang hari hampir tidak pernah kelihatan keluar rumah, hanya kehadiran seekor kucing putih belang yg sering mengganggu tetangga kiri kanan cari sisa makanan di tempat sampah, dan hampir setiap malam ada suara kucing mengerang seperti suara bayi menangis. "S E R A M" itulah gambaran setiap orang yg lewat disana pada malam hari. Lampu di dalam rumah kelihatan remang remang menambah kesan angker.
Sebagai ketua RT suami saya harus tanggap dengan pengaduan / keluhan warga masyarakat, maka tadi malam suami saya mengajak beberapa warga sebagai pengurus RT, untuk berkunjung ke rumah tersebut, melihat keadaan mereka, sekalian bersilaturahmi .
Setelah menunggu sekitar lima belas menit pintu di buka dengan penuh kehati- hatian oleh seorang nenek tua keriput, memandang dengan curiga pada rombongan suami yang datang bertamu, nenek itu mempersilakan masuk dan segera berlalu ke belakang memanggil "boncel...boncelll...??" dan yg dipanggil segera datang, ternyata seekor kucing dan langsung melompat duduk di pangkuansang nenek.
Suami saya mulai membuka pembicaraan tentang maksud dan tujuan kedatangan mereka kesana, disamping bersilahturahmi, juga untuk mengenal lebih dekat keadaan tetangga baru ini, dengan demikian warga tidak menduga-duga atau mereka-reka saja tapi tau siapa dan apa pekerjaan tetangga barunya. Lalu sang nenek memperkenalkan diri sebagai pembantu disana dan Indri adalah majikan nya yg biasa berangkatkerja malam hari dan baru pulang pagi hari, karena pekerjaannya sebagai penghibur/ penyanyi night club.
Setelah bercerita panjang lebar tentang asal usul mereka dan kegiatannya, suami saya mohon pamit karena keterangan yg diberikan sama dengan yg dulu pernah diceritakan Indri kepada saya.
Tapi namanya orang banyak bisa aja mereka tidak percaya dengan omongan si nenek tadi, karena salah satu peserta merasa merinding menatap mata sang nenek saat bersalaman tadi malam. Dia merasa ada yg janggal di rumah itu, dan ingin menyelidiki keadaan yg sebenarnya.
Jadilah dia bersama teman temannya memulai penyelidikan di sana yg diawali dari suara kucing yg mengerang seperti suara anak kecil yg teraniaya.
Malam ini mereka sengaja menunggu suara kucing itu dan menjelang malam sekitar jam sembilan suara tangis kucing itu membuat siapa saja yg mendengarnya jadi merinding, pilu terasa dan rombongan warga menyelinap ingin tau siapa yg menyiksa kucing tersebut. Dari celah lobang angin salah seorang warga melihat seorang wanita cantik mengerang kesakitan di atas tempat tidur, dan tidak jauh dari sana ada seorang nenek duduk bersila dengan wajah menengadah sambil komat kamit seperti orang kesurupan .
Sejak malam itu, warga memutuskan untuk mengunjungi rumah di ujung gang itu dan kali ini ibu ibu yg di utus. Sebagai perwakilan dari ibu-ibu, kami berangkat berlima malam ini untuk berkunjung dan kami sengaja datang sekitar jam delapan disana, sang nenek sedang berkemas- kemas hendak melakukan sesuatu, tapi kedatangan kami menghentikan langkahnya, dan saya menyadari bahwa kedatangan kami sudah mengganggu yg punya rumah,tanpa basa-basi saya mohon maaf sudah mengganggu, dan membertahukan maksud dan tujuan kedatangankami kesana.
Setelah saya katakan maksud dan tujuan kedatangan kami disana sang nenek terperanjat, mungkin tidak menyangka kalau warga sudah tau apa yg terjadi disana. Sang nenek menangis dan berusaha tegar sambil menghela nafas panjang, bercerita tentang keadaan Indri yg sesungguhnya.
Indri adalah gadis cantik, lincah dan ceria, tidak tau kenapa sejak orang tuanya meninggal secara aneh dan mengenaskan di kamar tidurnya dua bulan yg lalu, Indri jadi sering bangun tengah malam dengan menjerit histeris karena merasakan tusukan jarum penthul di sekujur tubuhnya. Sudah dibawa ke dokter dan berbagai pengobatan alternatif, bahkan dokter paling terkemuka di kota ini namun sampai sekarang belum menemukan jenis penyakit apa sebenarnya di derita Indri.
Mungkin Indri adalah korban kebiadaban orang yg menjadi saingan bisnis orangtuanya, setelah orangtuanya meninggal dengan sangat mengenaskan, saingannya juga ingin menghabisi nyawa Indri anak semata wayangnya, Indri terkena T e n u n g jarum penthul.Oleh sebab itu sang nenek yg sudah tua renta itu harus memberi obat setiap malam dengan bantuan mantra penawar pathi yg diwariskan maha gurunya. Karena tenaga sang nenek tidak seperti dulu lagi, maka butuh waktu lebih lama untuk mengobati dan memulihkan kesehatan Indri. Itulah sebabnya sang nenek memilih tempat ini, selain nyaman untuk ditempati juga jauh dari jangkauan penenung, sang nenek mohon doa dan ketulusan warga menerima mereka disini. .
Sejak saat itu hampir semua warga ikut bersimpati dan berusaha membantu sang nenek dengan ikut menjaga kelancaran pengobatan Indri, dan bila ada orang yg mencurigakan, warga akan mengawasi gerak- geriknya.

Comments
Post a Comment