Pengakuan Seorang Nara pidana

 Baru baru ini foto pak Sarijan ada muncul di koran pagi maupun siang, saya baca dengan teliti biar tidak ada yg tercecer atau salah baca, saya tidak percaya kalau di koran itu dengan sangat detail di bahas tentang latar belakang kel. Sarijan, karena saya tau persis siapa Sarijan dari kecil hingga dewasa, bahkan setelah masing- ma sing berumah tangga. Dia adalah teman satu kelas dari SD hingga SMA, kami memang sangat dekat karena tetangga rumah juga sa ingan rangking di sekolah. Dia pria yg suka memancing, tipe penya bar walaupun kadang marah tapi itu hanya sesaat, dan akan baikan lagi. Makanya saya sempatkan pulang ke kampung untuk mendengar langsung dari sumber utama, kenapa dia tega membunuh istrinya sendiri. Selama ini mereka sangat harmonis, dengan putra/inya yg sudah mulai masuk ke jejang pendidikan tinggi, kebahagiaan sangat lekat dengan keluarga ini, bah kan kalau di kampung mereka bisa jadi contoh yg paling rukun, tidak pernah ribut, apalagi sampai berantem di depan umum.
     Sarijan mempunyai tiga anak, dua laki- laki dan satu perempuan, dia punya usaha kolam peman cingan, sesuai keadaan desa kami yg dekat pegunungan di jawa barat, air gunung yg masih bersih, bi sa langsung ditampung dan dialirkan ke kolam, banyak ikan air tawar yg diternakkan Sarijan dan istri. Mereka bisa beli rumah, mobil, dan menyekolahkan anak - anak ke perguruan tinggi semua hasil usaha kolam.
     Tiba di kampung sudah hampir magrib, tenda masih terpasang di depan rumah Sarijan, rumah dipasangi police line, pertanda larangan bagi warga untuk melewati batas itu. hampir semua orang berguncing tentang musibah yg menimpa keluarga Sarijan, masih dijaga oleh beberapa orang polisi, walaupun Sarijan sudah menyerahkan diri ke polisi kemarin setelah kejadian itu.
     Bersama ibunya Sarijan kami menemui Sarijan di kantor polisi malam itu, dia tidak percaya kalau istrinya sudah meninggal di tangannya, dia syok dan menangis di pangkuan ibunya, dia minta maaf atas semua ke khilafannya, dia ceritakan apa yg sebenarnya terjadi dalam keluarga mereka yg sudah terlanjur dapat brand baik.
Banyak perubahan yg terjadi pada istri Sarijan semenjak usaha kolam pancing mereka berkembang, dia rajin ke salon, senam, arisan sistem lelang, dan belanja di mall bersama ibu- ibu pejabat kecamatan. Kalau ada merk hp terbaru dia langsung beli, dia mulai sibuk di luar rumah, kalau di ingatkan atau di nasehati, istrinya langsung mutung, minta cerai, dan bagi harta gono- gini.
     Sarijan masih tetap sabar mendekati istrinya agar tidak mudah tergoda hal- hal yg kurang baik, apalagi anak anak sudah kuliah, butuh biaya untuk pendidikan mereka. Namun sang istri sudah tidak terkendali lagi, inginnya berfoya - foya saja, akhirnya Sarijan mengambil alih keuangan, dimana selama ini semua hasil usaha masuk rekening istrinya, sekarang di ambil alih dengan maksud membatasi pengeluaran yg kurang manfaat.
     Mengetahui rekeningnya di blokir, istrinya marah besar, dia minta cerai saat itu juga dan semua harta gono gini harus di bagi dua, Sarijan bermaksud meredam kemarahan istrinya, tapi istrinya kalap sambil mengacung- acungkan golok yg biasa di gunakan untuk memotong ikan, dia menyerang Sarijan secara membabi buta, hingga tercebur ke kolam, lengan Sarijan terkena tebasan golok istrinya, dan terjadilah pergelutan sengit antara kedua suami istri berebut golok dari tangan istrinya.  Saat terdesak Sarijan merebut golok dari tangan istrinya dan kresss..usus istrinya terurai keluar. Sarijan membuang golok ke kolam lalu membawa istrinya ke rumah sakit, tapi malang, di perjalanan ke rumah sakit, istrinya meregang nyawa.

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri