Anakku Leaukemia


Bagi setiap pasangan suami istri kehadiran seorang anak dalam keluarga adalah anugerah yg paling di dambakan, demikian juga dengan saya. Setelah tiga tahun pernikahan rasa rindu momongan makin terasa, kita berdua konsultasi ke dokter ahlinya, dan hasilnya kita dinyatakan sehat dan ada harapan punya anak . Namun dari hari berganti bulan, bulan berganti tahun, hingga hampir sewindu usia pernikahan kita, tanda tanda kehadiran anak belum ada, semua anjuran dokter ahli sudah kita lakoni, bahkan paranormal dan tabibpun kita sudah kunjungi untuk dapat momongan, akhirnya kita pasrah, mungkin inilah yg terbaik buat kita, semuanya kita pasrahkan padaNya.Dalam kepasrahan jiwa, saya merasakan pusing yg luar biasa, yg hampir tiga hari tidak kunjung hilang, terpaksa saya pergi ke dokter untuk berobat.
     Ternyata saya dinyatakan hamil empat bulan, bahagia rasanya, tapi ada rasa ragu, mungkin karena sudah terlalu sering berharap tapi gagal, maka kita cari second opinion, pada dokter lain dan surprise hasilnya positif hamil. Sejak saat itu saya dan suami rajin mencari informasi tentang makanan dan minuman yg baik untuk pertumbuhan janin, termasuk mendengar musik klasik, membacakan cerita anak- anak pada malam hari kalau mau tidur. 
     Semakin lama semakin tidak sabaran ingin melihat wajah bayiku, semua saran dokter saya ikuti dengan seksama, vitamin dan makanan bergizi seimbang saya konsumsi semua dengan suka cita hingga bobot saya naik hampir dua puluh kilogram.Saat usia kandungan masuk tujuh bulan, janin berubah posisi jadi sungsang, dan oleh dokter dianjurkan untuk sujud tiap pagi dan sore hari untuk mengembalikan posisi mapan.
     Karena cabang bayi sudah lama kami nantikan, maka dokter menyebutnya anak mas, hingga perlu penanganan extra hati- hati, dan setelah di usg, ketahuan kalau ari-ari ada di posisi bawah, sehingga menutup jalan bayi. dokter tidak mau ambil resiko, saru- satunya cara melahirkan dengan operasi besar, dan harus dipersiapkan segala sesuatunya yg berhubungan dengan itu.
     Pada hari rabu, empat belas Oktober, anak saya lahir dengan berat badan tiga kilogam, dan panjangnya lima puluh satu centimeter melalui operasi caesar. Semua sanak saudara datang berkunjung ikut berbagi kebahagiaanku, saya merasa hidup ini seperti mimpi, bagaimana rasanya jadi ibu, mendengar suara anakku menangis, semua tidak bisa saya uraikan disini, tapi bahagia yg luar biasa tidak terhingga rasanya.
     Delapan tahun dalam penantian, sekarang seakan hilang begitu saja, yg ada hanya rasa bahagia dan saya baru sadar kalau anakku tidak seperti bayi pada umumnya, suaranya sangat lemah, waktunya habis untuk tidur saja, lama lama badannya kuning, dan baru tiga hari di rumah, anakku harus dirawat karena sakit kuning, butuh equilibrium darah enam kantong untuk menambah darahnya.
     Seminggu di rumah sakit anakku boleh pulang, tapi badannya hangat - hangat terus, pertumbuhannya lambat, dalam usia dua tahun baru bisa jalan, bicaranya belum jelas, masih celat, hingga suatu waktu badannya panas tinggi, saya bawa ke rumah sakit, panasnya sampai empat puluh derajat celcius lebih.
     Sebulan di rumah sakit, dokter tidak menemukan apa sakit anakku, terakhir diambillah sedikit sum- sum tulang belakangnya, waktu itu pemeriksaan masih ke jakarta, sehingga hasilnya baru ketahuan seminggu kemudian. Duh...Gusti....Anakku ternyata didiagnosa mengidap leaukemia ( kanker darah ).
Hancur luluh seluruh jiwaku, air mataku sampai kering menangisi penderitaan anakku, andai aku bisa menggantikan deritanya, akan kulakukan demi keselamatannya.
     Yang pertama diwawancara dokter adalah saya sebagai ibunya, apakah ada sanak saudara yg pernah menderita kanker...? setau saya tidak ada dok...jawabku. lalu dokter bertanya lagi..apakah anak ibu pernah tranfusi darah..? ya dok..jawabku. donornya siapa...? pmi dok..jawabku.
dokter menjelaskan bagaimana seorang anak bisa terkena sakit leaukemia, yaitu faktor gen dan lewat transfusi darah, Ya... Tuhan.... kenapa harus dia yg leaukemia, kenapa bukan aku saja, begitu jeritan hati saya saat itu.
     Tiga bulan program pengobatan pertama, anakku tinggal di ruang isolasi di RS, rambut rontok, badan gemuk, lumpuh, dan semua harus steril karena dia gampang tertular penyakit. Pada usia empat tahun anakku kembali ke pangkuanNya. Selamat jalan anakku, Tuhan lebih menyayangimu.


Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri