Meraih Mimpi, dengan Cinta

Bagai perahu layar...sekali layar terbuka, maka angin, badai, ombak  dan gelombang laut  akan menjadi tantangan berat yg harus kita taklukkan selama perjalanan mengarungi samudera nan luas. Begitu juga hidupku, sejak aku memutuskan pergi merantau  meninggalkan kampung halaman, banyak rintangan yang siap menghadang langkahku. Tapi aku tidak akan pernah menyerah selama Tuhan masih mengiringi langkahku, walaupun terkadang aku menangis dalam hati, bila sedang rindu ayah ibuku , tapi di lain waktu aku tersenyum setelah bisa melewati jalan terjal bebatuan penuh duri hari ini, bisa bernafas lega setelah merampungkan suatu tugas lapangan yg berat, yg menjadikan saya bisa makan malam di tempat yg sangat romantis, dengan seorang pria bule' yg penuh semangat dan benar- benar surprise.
     Setelah berlalu sekian lama perjuanganku mulai menunjukkan hasil, dimana selama ini saya dapat bekerja sambil kuliah di Kota yang terkenal dengan gudegnya. Walaupun hanya sebagai tenaga lepas, upah yang saya peroleh bisa meringankan beban biaya pendidikanku, soal makan, transport,dan tempat tinggal sudah ditanggung perusahaan.
     Makin lama ikut perusahaan makin banyak pengalaman yg saya dapatkan, menu yg kita makan memang hanya  seadanya saja yg penting ada yg mengganjal perut, dan itu tidak jadi masalah bagi saya, masih bisa saya atasi sendiri. Bila lagi ada rejeki aku tabung untuk jaga- jaga kalau suatu saat nanti aku tidak bisa kerja .
     Sepuluh tahun sudah berlalu, tidak terasa usia sudah mendekati kepala tiga, berpisah dengan orang tua dan sanak saudara, entah bagaimana keadaan mereka sekarang, ingin rasanya pulang saat liburan panjang akhir tahun ajaran nanti, tapi waktu yg pas untuk pulang belum ada, cuti tahunan sudah habis kemaren terpakai untuk mengadakan penelitian sebagai syarat utama untuk menyusun tesisku
     Aku jadi teringat masa - masa indah bersama teman2 di kampung, saat itu kami masih remaja atau istilah  sekarang "ABG". Kita pergi bersama- sama nonton pasar malam yg diadakan setahun sekali  di lapangan sepak bola kecamatan, dalam rangka menyambut tahun baru . Keadaannya sangat ramai tua, muda, semua turun di jalan, banyak hiburan yg bisa kita nikmati disana. Dengan uang saku seadanya kita sudah bisa menikmati berbagai jenis makanan kecil buatan ibu ibu PKK setempat.
     Sekarang rasa ingin pulang semakin menyesakkan dada, tapi saya belum bisa mengajak  calon pendamping hidupku yg sangat membantu saya dalam perjalananpanjang, sehingga bisa hidup mapan seperti sekarang ini. Dia masih merampungkan studynya di negara asalnya Australia hingga musim gugur nanti, dan setelah itu dia akan datang pada keluarga besar saya untuk menyampaikan rencana pernikahan kami tahun depan, dia layak untuk dibanggakan karena dedikasinya dan kecintaannya pada negara Indonesia.  Itulah yg membuat saya kagum padanya.
     Dia tidak pernah lupa makan nasi goreng dan nasi uduk kesukaannya, dan sebagai warga asing, dia sangat menghargai budaya Indonesia. Kemanapun dia pergi akan selalu mencoba masakan tradisional tempat wisata yg menjadi tujuannya. Banyak hal yg ingin dia wujudkan di indonesia, termasuk pemakaian sky live di daerah pegunungan agar warga masyarakat yg tinggal di pegunungan bisa menjual hasil taninya ke kota setiap hari.
     Sampai saat ini saya masih punya mimpi, kelak orang Indonesia bisa menghentikan pengiriman tenaga pembantu rumah tangga dan  buruh kontrak ke luar negeri, karena sudah makmur dan sejahtera di negaranya sendiri. Kita harus membudayakan sikap disiplin dan kerja keras serta mau berjuang, untuk meningkatkan kualitas hidup dan masa depan generasi kita  selanjutnya.
     Kalaupun kita pergi ke luar negeri bukan mau jadi pembantu atau buruh kasar, tapi karena punya keahlian tertentu, yg pantas dibanggakan sebagai bangsa yg besar dan bermartabat, tidak diperlakukan semena- mena, apalagi sampai di tembak mati tanpa alasan yg jelas seperti kejadian di negara tetangga kita. Miris rasanya mengetahui nasib bangsa ini diperlakukan tidak manusiawi oleh negara tetangga sendiri yg nota bene masih serumpun .
    

Comments

Popular posts from this blog

Ayahku Bejat, Hidupku Hancur

Mbah Parjo di usia 95 Tahun

Hancurnya keangkuhan Diri