Rahasia Cinta
Saya anak tunggal dari pasangan suami - istri yg berbasis militer , bila ayah seorang prajurit sejati yg selalu berpindah- pindah karena tugas, ibu menetap di satu kota metropolitan karena beliau seorang bidan. Saya di didik disiplin oleh kedua orangtua saya sejak masih kecil, bahkan cenderung seperti militer, makan, tidur, belajar, bermain semua ada jadwalnya.
Saya sering sedih bila melihat teman2 kompleks bisa dengan leluasa bermain di luar rumah. Pernah sekali saya nekad keluar lewat jendela, dan ketahuan sama yg mengasuh, saya di marahi seharian penuh oleh ibu, tidak cukup sampai disitu saja, saat ayah pulang saya di setrap selama satu jam dan uang saku di stop selama satu bulan. Bagi saya saat itu yang paling membahagiakan adalah kebebasan, sehingga semakin dilarang keluar rumah, semakin nekad melakukannya. Bisa dibayangkan bagaimana marahnya orangtua saat itu, hukuman yang diberikan makin berat, tapi semua itu tidak membuat saya kapok.
Kalau dulu saya takut salah, takut dengan hukuman, takut dimarahi, sekarang saya merasa enjoy bila berhasil mengecoh mereka.Saya tumbuh jadi anak tomboy, karena semua teman saya didominasi kaum adam, saya jadi ikut silat, panjat tebing, bola, bahkan memanjat pohon buah tetanggapun hal yg biasa kami lakukan saat itu.
Saya merasa hidup ini sangat indah, gak ada masalah yg berat, dimarahi, di setrap,di jewer ibu itu sudah biasa, semua berjalan seperti air mengalir. Di sekolah juga lancar- lancar saja, sekolah sejak TK sampai SD masih di lingkungan asrama. Setelah masuk SMP sampai SMA baru mengenal kehidupan di luar asrama, itupun masih satu kecamatan dengan tempat tinggal.
Kebetulan setelah tamat dari SMA, saya ikut teman masuk UMPTN,gak disangka saya diterima dalam bidang study yg hampir sama dengan ibu yaitu fakultas kedokteran di PTN yang paling diminati di negeri ini, karena tempat tinggal orang tua dan tempat kuliah sangat jauh, saya terpaksa harus kost dekat kampus. Ini adalah kesempatan emas bagi saya untukbisa bebas dan mengatur hidup sendiri, saya sudah dewasa.
Semua kebutuhan kuliah mulai daftar ulang sampai cari kontrakan saya kerjakan sendiri, orangtua taunya beres. Saya memang tidak mau menyusahkan mereka karena selama ini saya ingin menunjukkan pada mereka bahwa putri mereka sudah dewasa, begitulah prinsip saya yang sudah terbiasa hidup mandiri.
Pada awal kuliah saya merasa waktu sangat cepat berlalu, kalau selama ini saya hanya bertanggung jawab dengan sekolah dan pelajaran, kini saya harus bisa mengatur seluruh kehidupan saya mulai pagi hingga malam tiba. Ternyata pola belajar di sma sangat berbeda dengan kuliah di kedokteran, tidak ada waktu lagi untuk bermain dengan teman teman. Semua waktu terkuras untuk praktek dan kuliah, kalau ada waktu luang saya manfaatkan untuk istirahat.
Kebiasaan disiplin yang ditanamkan orang tua waktu kecil, tanpa saya sadari terbawa hingga di kampus, didikan keras orang tua , manfaatnya baru terasa sekarang, semua tugas dalam mengikuti pendidikan kedokteran selama kurang lebih 6 tahun terselesaikan tepat waktu, sehingga kerja keras selama ini membuahkan hasil yang baik.
Setelah mendapat gelar dokter, ayah memasukkan saya ke sekolah militer selama kurang lebih setahun, sebagai tenaga medis saya mendapat tempat di RS yang sama dengan ibu. Waktu tidak terasa berlalu begitu cepat, , teman seusia, sanak saudara, satu demi satu menikah. Usia sudah menginjak angka 30 thn, jangankan mau married, calon aja saya belum punya.
Selama ini saya punya banyak teman pria tapi mereka memperlakukan saya sama dengan teman wanita pada umumnya, kami sudah biasa mengurus semua kebutuhan sendiri, tidak ada yang istimewa. Mereka malah sering minta pendapat saya kala mereka naksir cewe', jadi kita semua sudah seperti saudara.
Semua sanak saudara dan teman2 kuliah pada ingin mencari jodoh yang cocok buat saya. Saya sebenarnya tidak setuju dengan perjodohan, tapi apa boleh buat, saya anak tunggal, bagaimana nasib kelanjutan keluarga kecil kami nanti kalau saya tidak menikah.
Mungkin ini adalah efek samping dari pendidikan disiplin dan kemandirian yang ditanamkan orangtua sejak kecil. Sehingga saya benar benar mandiri, dan tidak mau menyusahkan orang lain. Orangtua saya adalah orang yang berdedikasi tinggi, sehingga tidak pernah menanyakan siapa calon mantunya, walaupun dalam hati kecilnya mungkin ada rasa kawatir akan nasib anak semata wayang mereka.
Pernah seorang kenalan ayah datang ke rumah bermaksud menjodohkan putranya dengan saya, . Kata ayah bahwa temannya akan datang bersama anaknya akhir pekan nanti, mereka adalah sahabat baik keluarga kita, ayah sangat senang bila hubungan persahabatan ini bisa meningkat jadi sebuah keluarga. Namun sebagai orangtua yang baik, ayah tidak mau memaksakan kehendak tapi tetap menyerahkan semua keputusan pada saya.
"Hingga suatu waktu ketika saya sepulang kerja mampir belanja di mall, lagi asyik memilih barang ... ehh..tiba - tiba saja ada orang yang menutup kedua mata saya dari belakang, dia suruh saya menebak siapa dirinya....???. saya samar samar masih mengenali suara itu, tapi siapa yaa...??? ternyata dia Harry, teman kecilku waktu di asrama dulu."
Sebagai teman yg sudah lama tidak bertemu, kami saling tukar cerita dan pengalaman satu sama lain. Dia lulusan tehnik dari Ohio Jepang dan sudah lama bekerja di perusahaan Jepang, dia pulang ke Indonesia dalam rangka survey rencana pembukaan cabang perusahaan di Jakarta.
Ketika saya pulang, sore itu di rumah sudah banyak orang berkumpul, mereka tiba - tiba saja diam semua, dan saling memandang satu sama lain, dengan rasa penasaran saya bertanya pada mereka apa yang terjadi sehingga banyak orang....belum lagi saya bicara tiba - tiba aja mbok inah menangis histeris....lalu pingsan,,,...???.
Sambil di tuntun orang banyak saya menyaksikan kedua orangtua saya terbujur kaku bersimbah darah. Aku tidak ingat lagi apa yang terjadi, semua gelap....gelap....dan suara sayup -sayup terdengar memanggil namaku, perlahan kubuka mata melihat sekeliling ternyata sudah malam.... ????
Aku bersimpuh disisi kedua orangtuaku memohon ampun, tidak bisa mendampingi mereka saat maut menjemput, mereka korban kecelakaan karambol saat mau pulang dari kantor. Ayah memang selalu menjemput ibu sepulang kerja bila ada kesempatan, dan itu dilakukan selama kurang lebih tiga puluh tahun. Cahaya cinta mereka tidak pernah redup hingga maut menjemput, mereka tetap setia sehidup semati.
Sejak awal peristiwa hingga usai acara pemakaman mas Harry dan keluarganya tidak henti2nya memberi semangat dan pendampingan pada saya, begitu juga pada saat aku merasa sendirian dan kesepian dia ada untukku.
Setelah tujuh hari kepergian orangtuaku, seorang notaris datang membawa surat wasiat ayahku yang membuatku semakin sedih dan terharu. Ternyata segala sesuatu sudah dipersiapkan kedua orangtuaku untuk putri semata wayang mereka, rumah lengkap dengan tempat praktekku, seorang putra sahabatnya yg kiranya layak menjadi pendampingku dalam mengarungi hidup ini selamanya, setelah mereka pergi meninggalkanku menghadap Yang Kuasa.
Terima kasih Ayah Ibuku tercinta, cintamu abadi padaku, takkan pernah tergantikan selamanya. Beristirahatlah dengan tenang disisiNya.
Sejak awal peristiwa hingga usai acara pemakaman mas Harry dan keluarganya tidak henti2nya memberi semangat dan pendampingan pada saya, begitu juga pada saat aku merasa sendirian dan kesepian dia ada untukku.
Setelah tujuh hari kepergian orangtuaku, seorang notaris datang membawa surat wasiat ayahku yang membuatku semakin sedih dan terharu. Ternyata segala sesuatu sudah dipersiapkan kedua orangtuaku untuk putri semata wayang mereka, rumah lengkap dengan tempat praktekku, seorang putra sahabatnya yg kiranya layak menjadi pendampingku dalam mengarungi hidup ini selamanya, setelah mereka pergi meninggalkanku menghadap Yang Kuasa.
Terima kasih Ayah Ibuku tercinta, cintamu abadi padaku, takkan pernah tergantikan selamanya. Beristirahatlah dengan tenang disisiNya.

Comments
Post a Comment