Dokter Togi dan desa Sukar Maju

    
Setiap kelahiran anak anaknya akan disambut dengan kebahagiaan, oleh keluarga Gorga, apalagi kalau yg baru lahir itu anak laki laki, dia akan mengundang orang sekampung untuk pesta di rumahnya sebagai ucapan syukur. "Anak adalah anugrah, maka tidak seharusnya di tolak dengan cara apapun, biarkan mereka lahir seperti kita juga lahir",  katanya.
    Lebih ekstrim lagi pak Surat tetangga depan rumahnya, "membatasi kelahiran berarti termasuk delik pelanggaran HAM" katanya. Jadi setiap keluarga di kampung itu tidak ada yg berani ber KB, takut dituduh sebagai penjahat. Setiap ada petugas penyuluh KB dari Bapermas setempat, pasti sepi pengunjung puskesmas.
     Tapi kali ini yang datang ke desa "Sukar Maju" adalah seorang dokter muda yg gagah, bersama istri dan dua anak mereka. Dia datang dari Jakarta, mau tinggal di desa itu sebagai dokter ptt alias mengabdi dulu sebelum di tetapkan jadi dokter tetap sebagai syarat mendapatkan ijin praktek.
Sekitar jam lima sore, dokter mengumpulkan warga desa lewat pemuka agama dan pemuka adat. Hampir semua keluarga yg menerima undangan datang ke balai desa untuk berkenalan dengan dokter baru mereka.
     Setelah kepala desa selesai memberikan sambutan, tiba giliran dokter memperkenalkan diri. Bapak/ibu yg saya hormati, perkenankanlah saya untuk memperkenalkan anggota keluarga saya sbb : nama saya "Partogi " biasa dipanggil " Togi "; istri saya namanya "Fortuna " biasa dipanggil " Nana "  Anak pertama saya laki2 namanya "Partano" biasa dipanggil " Nano " dan yg kedua adalah perempuan namanya " Partani " biasa dipanggil " Nani ".
     "Bapak/ibu sekalian adapun kedatangan saya kesini adalah mengemban tugas negara yaitu melayani warga masyarakat di desa ini dengan sebaik - baiknya. Harapan saya bapak/ibu jangan ragu menemui saya kapanpun anda membutuhkan bantuan kesehatan". Begitulah dokter Togi menutup acara perkenalannya petang itu.
     Setelah semua memberikan sambutan, dilanjutkan dengan acara ramah tamah warga dengan keluarga dokter. Masyarakat sangat antusias menyambut kedatangan dokter Togi, tidak seperti biasanya, dokter hanya datang ke puskesmas seminggu sekali, itupun paling lama dua jam.
     Rumah dinas dokter berdekatan dengan rumah pak Gorga dan pak Surat, mereka sering berkumpul ngobrol2, sambil minum kopi dan makan singkong godok, tentang keadaan warga desa. Kesulitan mereka menyekolahkan anak2, penghasilan yg makin berkurang karena ulah para tengkulak, penyakit diare dan deman berdarah, yg sering mengakibatkan kematian pada anak2.
     Sebelum datang ke desa itu, dokter Togi sudah mendapat masukan dari teman2 dokter pen dahulunya kalau desa tersebut sangat tertinggal dari desa lainnya, mereka tidak mau ikut program pemerintah " dua anak cukup" atau " keluarga kecil bahagia". Dan yg menjadi biang keroknya adalah pak Gorga dan pak Surat, mereka sangat disegani di desa itu, maka dokter Togi memulai program kerjanya dari pendekatan atau kata kuncinya saja. Setelah sekian lama pergaulan mereka, dokter Togi mulai mengajak bapak2 di desa itu untuk hidup penuh dengan cinta kasih pada anak dan istrinya melalui pola hidup sehat.
     Dokter menjalin kerjasama dengan pemerintah setempat untuk membantu masyarakat dalam berkarya melalui pendidikan ketrampilan sesuai bakat yg dimiliki, dan memberikan kesempatan pada anak2, untuk bermain dan mengembangkan bakatnya melalui bangku sekolah ataupun pelatihan ketrampilan seperti bidang olah raga, pertukangan, dll bagi yg pengangguran.
     Begitulah dokter Togi membangun kesehatan di desa melalui pendekatan kekeluargaan ,hingga pak Gorga dan pak Surat yg dulu anti program KB menjadi mentor yg siap memberikan sosialisasi di seluruh tanah air, karena kepiyayian dokter Togi, dia sangat disenangi masyarakat di desa maupun kota, berbagai hadiah dia peroleh dari pemerintah berkat pengabdiannya pada masyarakat.
      Tidak terasa waktu berjalan, dua tahun pengabdiannya di desa berjalan dengan baik, nama dokter Togi sangat dekat dengan para petinggi di kementerian kesehatan, dia mendapat julukan "dokter KB", begitu banyak penghargaan yg dia peroleh dari pemerintah daerah sampai pemerintah pusat berkat kerja kerasnya membawa desa "Sukar Maju" ke tingkat Nasional menjadi" Pilot project Keluarga Berencana"
     Tapi ada yg luput dari perhatian dokter Togi, karena kesibukannya mengurus warga desa, dia lupa istrinya yg menunggu kedatangannya di rumah dinas hingga larut malam, sebulan.. dua bulan .....berlalu...dokter Togi selalu pulang dalam kondisi lelah dan ngantuk. Maka perlahan tapi pasti istri dokter Togi mulai
mencari kesibukan untuk membuang sepi, dengan menggerakkan senam aerobik di balai desa setiap hari sabtu sore.
     Pesertanya banyak dari remaja sampai orangtua berkumpul dan ikut bergoyang sekenanya saja. Bu Nana istri dokter Togi halus kulitnya, cantik wajahnya dan bodynya juga sangat sintal, banyak pemuda desa ikut senam hanya karena ingin menikmati gerakan sexy bu dokter. 
     Bu Nana juga manusia normal, dia merindukan belaian kasih suami tercinta, dan hampir tiga bulan kesempatan itu tidak ada karena kesibukan sang dokter teladan yg selalu mencetek prestasi cemerlang. Maka sore itu, ketika seorang pemuda pengagum bu Nana menyampaikan rasa kagumnya, gairah cinta bu dokter berkecamuk, dia terbius rayuan pemuda desa, ibarat tanah kering disiram air hujan, mereka melakukan hal yg seharusnya dilakukan suami - istri.
     Sejak saat itu, bu Nana tidak perduli lagi mau pulang jam berapa suaminya ke rumah. Dia seakan terbius dengan cinta pemuda desa yg selalu siap menemaninya, kapan dia butuh bercinta. Mereka semakin menggila, bila dokter Togi pergi ke luar kota, bu Nana merasa terbebas dari rasa berdosa, dia akan pergi ke bukit di tepi hutan untuk memadu kasih.
     Begitulah saat malam perpisahan ini, mereka mengikat jajni kelak bila ada waktu akan bertemu kembali di bukit itu, si pemuda sangat sedih di tinggalkan oleh kekasih gelapnya, dia ingin menyusul ke kota, tapi tidak punya keberanian, karena dia tau Jakarta tidak akan bersahabat  dengan orang desa seperti dirinya.
     
 

Comments