Bukan bunga sedap malam

Ini kali ke lima Rina Rhain mabuk berat di bar exotic style tempat dia menjadi penyanyi caffe, setelah berpisah dari Rhain suami arabnya. Dia tinggal seorang diri di gubuk derita yang jauh dari ke-glamour- an seperti selama ini. Anak semata wayangnya Habibah, hak asuh jatuh ke tangan suaminya dan dibawa ke negaranya. Rina memang bukan anak gedongan tapi hanya seorang pengamen dari restoran ke restoran yg bertaburan di sepanjang pantai Kuta Bali. Dia harus mengiklaskan masa kanak- kanak dan masa remajanya demi membantu kebutuhan keluarganya. Ayahnya hanya seorang buruh tani di Klungkung, sementara sang ibu hanya seorang buruh cuci di sekitar tempat tinggal mereka. Rina sebagai anak sulung dari empat bersaudara selama ini menjadi tulang punggung keluarga besarnya.
     Memang akan menjadi sangat berat bagi kedua orangtuanya untuk membiayai pendidikan adik adiknya yang sekarang masih duduk di sekolah menengah  atas dan sekolah menengah pertama. Biaya sekolah sudah menjadi tanggungan Rina semenjak masih remaja, karena Rina merasa bahwa daya saing dalam mencari pekerjaan  sangat dipengaruhi oleh basic pendidikan seseorang. Dia ingin adik adiknya mendapat pendidikan yang baik sebagai modal untuk masa depan mereka.
     Rina hanya pernah sekolah sampai kelas empat sekolah dasar saja, karena orangtuanya tidak punya uang untuk beli peralatan sekolah waktu itu, sehingga dia terpaksa ikut tetangganya mengamen di restoran.
     Pertemuannya dengan Rhain adalah awal dari kebangkitan Rina dalam status sosial dan ekonomi keluarga.  Rhain  baru pertama kali datang ke Bali ketika Rina mengamen di restoran temannya, dengan suara merdu Rina menyanyikan lagu barat kesukaan Rhain. Rhain melihat wajah Rina dengan seksama seakan tidak percaya dengan pendengarannya, bahwa yang bernyanyi itu adalah seorang pengamen jalanan. Dia dan sahabatnya mengatur waktu yang tepat untuk pertemuan dengan Rina di caffe sahabatnya, karena sahabatnya sudah lama mengenal Rina sebagai pengamen.
     Rhain jatuh cinta pada pandangan pertama, dia ingin menjadikan Rina sebagai istri sekaligus sekretaris pribadinya di Caffe " RR "yang baru saja dibelinya . Mereka sangat serasi dan pandai mengatur keuangan, sehingga dalam jangka waktu singkat Caffe RR sudah bisa buka cabang di berbagai tempat wisata di Bali.
     Setahun pernikahan, mereka dikaruniai seorang putri nan cantik secantik ibunya, diberi nama Habibah yg mungkin punya makna khusus bagi sang ayah. Rhain tidak mau anaknya diasuh oleh baby sister ataupun pembantu, sehingga Rina harus berhenti jadi sekretaris di caffe suaminya, waktunya tercurah untuk si kecil Habibah, mulai mandiin hingga nyuapin semua dilakukannya sendiri.
     Sebagai suami sebetulnya Rhain sangat baik, penuh perhatian sama keluarga, bahkan Rina sudah dibawa dan dipestakan di Negara asalnya, sekaligus bulan madu mereka keliling Eropa, namun Rina tidak bisa tidur dengan nyenyak selama ini karena sebagai tulang punggung keluarga besarnya, dia sudah hampir setahun tidak bekerja, yang berarti bantuan untuk orangtua dan adik adiknya mulai tersendat. Biasanya dia bisa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membantu orangtuanya.
     Rina mengemukakan niatnya untuk kembali bekerja di tempat suaminya dengan harapan dapat uang tambahan untuk membantu orangtuanya, tapi Rhain tidak setuju karena Habibah masih sangat kecil dan butuh kasih sayang seorang ibu dalam masa pertumbuhannya. Rhain memang sangat membatasi pergaulan istrinya sejak mereka menikah, dan Rina tau suaminya sangat menjunjung tinggi budayanya, dimanapun dia berada, sehingga dia tidak berani membantah.
     Ada kebiasaan suaminya sebelum tidur yaitu selalu minta Rina menyanyikan sebuah lagu, hingga suaminya tertidur, suaminya sering berkata kalau Rina hanya miliknya, suaranya, kecantikannya juga tak seorangpun bisa mengambilnya dariku.
Sejak saat itu Rina tidak pernah lagi mohon ijin pada suaminya, dia mengambil jalan pintas yaitu dengan cara sembunyi- sembunyi menerima tawaran menyanyi di caffe saat suaminya bekerja.
     Hampir setahun usahanya berjalan lancar karena Rina sangat pintar mengatur waktunya biar jangan sampai ada rasa curiga dari suaminya, namun sepandai- pandainya tupai meloncat pasti suatu saat akan terjatuh juga, mungkin peribahasa ini sangat cocok dengan nasib Rina.
     Malam itu Rhain mendapat undangan dari teman dekatnya untuk peresmian caffenya besok pagi sekitar jam sepuluh di pantai Sanur. Rhain berangkat lebih pagi dari biasanya, agar apa yg harus diper siapkan di seluruh caffe dipenuhi dulu sebelum menghadiri undangan nanti.Rina juga mempersiapkan diri untuk mendampingi penyanyi dari Jakarta yg sengaja diundang dalam peresmian itu.
     Acara akan segera di mulai, para undangan sudah duduk di kursi masing masing di iringi lagu jazz kesukaan emilik caffe. Panitia membuka acara dengan membacakan susunan acara yg akan dilaksanakan sebelum acara ramah tamah nanti. Sebagai pendamping penyanyi terkenal biasanya akan lebih dulu tampil dalam acara lagu pembukaan, baru setelah itu muncul panyanyi utama.
    Rina adalah penyanyi pertama yg muncul menghibur para tamu, dengan suaranya yg khas dan merdu suaminya tidak mungkin lupa saat dia bertemu dulu, dia kaget luar biasa karena selama ini dia tidak pernah mengijinkan istrinya pergi dari rumah tanpa dirinya, apalagi sampai menyanyi di de pan umum apa kata orang nanti. Dia marah besar dan merasa di hianati sang istri yg sangat dia cintai, dia tidak bisa menerima perlakuan istrinya yg tidak jujur padanya selama ini.
     Sehabis membawakan lagu pembukaan dengan aplaus dari para tamu, Rina bermaksud ganti baju dan pulang, tapi Rhain suaminya sudah berdiri tepat di depannya, tanpa berkata sepatah katapun suaminya menampar pipi Rina dengan membabi buta hingga Rina terjungkal, untung para perias dan pembantu menangkapnya dengan cekatan, hingga tidak sampai jatuh ke lantai
     Rina tau karakter suaminya, begitu juga adat istiadat di negara mereka, istri harus tunduk pada suami dan istri tidak boleh pergi tanpa suaminya. Suami punya hak menghukum cambuk istrinya kalau berani melanggar aturan, bahkan memenjarakannya bila perlu. Itulah yang membuat Rina tidak berani pulang ke rumah sendirian, sehingga dia mampir dulu ke rumah orangtuanya untuk mengajak adiknya menemani pulang untuk minta maaf pada suaminya.
     Ternyata Rina terlambat, suaminya sudah menutup pintu untuknya, semua barangnya sudah dipaketkan ke rumah orangtuanya tadi siang setelah kejadian di caffe itu, rumah ditutup rapat, entah kemana perginya mereka. Rina menjerit sekuat- kuatnya, meratapi nasibnya, dan mengutuk alam yg tidak mau mengerti isi hatinya.
     Pada sidang perceraian yg didaftarkan suaminya di pengadilan negeri Denpasar, Rina mengurai kan dengan gamblang semua permasalahan keluarganya, dan permohonannya untuk membatalkan perceraian ini demi anak mereka, yg masih kecil dan membutuhkan kasih sayang kedua orangtuanya secara utuh,pada hakim di pengadilan, termasuk keinginannya untuk mengasuh sendiri anak semata wayang mereka kelak bila suaminya tidak ingin rujuk lagi, karena Habibah masih balita. 
     Harapan Rina mengasuh anaknya hanya tinggal harapan, semua perwalian jatuh pada sang suami dengan alasan Rina tidak punya penghasilan tetap untuk membelanjain anaknya kelak, Rina hancur hatinya, hukum tidak berpihak padanya, walaupun dia di negaranya sendiri. Hukum hanya berlaku adil di negara ini bila ada cukup uang untuk pelicin, yg miskin dan buta hukum akan menjadi korban ketidak adilan.
     Siang malam dia menangisi anaknya dan hanya dengan minum alkohollah Rina bisa melupakan deritanya, dia rindu anaknya, tapi dia tidak tau harus mengadu pada siapa, setiap ada kesempatan menyanyi dia akan menyanyikan lagu kenangan "Bukan bunga sedap malam", untuk menghibur hatinya yg hancur berkeping- keping.

Comments